PM Hungaria Viktor Orban Yang Didukung AS Kalah Pemilu oleh Oposisi

LINGKARMEDIA.COM – Perdana Menteri Hungaria yang telah lama berkuasa, Viktor Orban, akhirnya kalah telak dalam pemilihan parlemen negara itu setelah hasil resmi sebagian menunjukkan partai Tisza pimpinan Peter Magyar memenangkan kemenangan pada Minggu (12/4/2026).

“Perdana Menteri Viktor Orban baru saja menelepon untuk mengucapkan selamat atas kemenangan kami,” tulis Magyar di media sosial pada hari Minggu, saat partainya meraih 52,49 persen suara dan Fidesz pimpinan Orban meraih 38,83 persen, dengan 53,45 persen tempat pemungutan suara telah dihitung.

Kemenangan Magyar menjadi penanda berakhirnya era Orban yang selama ini identik dengan nasionalisme konservatif, kebijakan kontroversial, dan hubungan yang kerap tegang dengan Uni Eropa.

Dengan lebih dari 90 persen suara telah dihitung, partai Tisza yang dipimpin Magyar unggul jauh dengan perolehan di atas 53 persen, meninggalkan Fidesz milik Orban yang berada di kisaran 37 persen.

“Saya mengucapkan selamat kepada partai yang menang. Kami akan melayani bangsa Hungaria dan tanah air kami dari barisan oposisi,” kata Orban kepada para pendukungnya, dikutip dari Associated Press.

Pernyataan itu sekaligus menutup satu bab panjang kepemimpinan yang dimulai sejak 2010 dan menjadikannya salah satu figur paling dominan di Eropa dalam dua dekade terakhir.

Di Budapest, suasana kemenangan langsung terasa di jalanan. Ribuan warga memadati kawasan sepanjang Sungai Danube, merayakan hasil pemilu dengan klakson kendaraan dan nyanyian.

Hasil pemilu ini tidak hanya berdampak domestik. Di tingkat regional, kemenangan Magyar diperkirakan akan mengubah dinamika di Uni Eropa, di mana Orban selama ini dikenal sebagai salah satu penghambat utama keputusan penting, termasuk terkait dukungan terhadap Ukraina.

Selama bertahun-tahun, Hungaria di bawah Orban kerap memanfaatkan hak veto untuk menahan kebijakan bersama, memicu frustrasi di antara negara-negara anggota Uni Eropa lain.

Secara global, kekalahan Orban juga dipandang sebagai pukulan bagi gelombang populisme kanan yang menjadikannya sebagai model.

Kedekatannya dengan Vladimir Putin serta hubungan politik dengan Donald Trump menempatkannya sebagai figur kunci dalam jaringan politik tersebut.

Tidak heran jika hasil pemilu ini turut disorot luas di luar Eropa sebagai sinyal perubahan arah.

Magyar, yang sebelumnya merupakan bagian dari lingkaran dalam Fidesz, tampil sebagai penantang yang tidak terduga.

Ia keluar dari partai tersebut pada 2024 dan membangun kekuatan politik baru melalui Tisza.

Dalam waktu relatif singkat, ia berhasil memposisikan diri sebagai alternatif kredibel dengan fokus pada isu keseharian seperti layanan kesehatan, transportasi publik, serta pemberantasan korupsi.

Pendekatan ini terbukti efektif menjangkau pemilih yang selama ini mungkin tidak tersentuh oleh retorika ideologis.

Janji utama Magyar adalah memperbaiki hubungan Hungaria dengan Uni Eropa dan NATO yang telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Ia juga membuka peluang perubahan sikap terhadap perang di Ukraina, sebuah isu yang selama ini menjadi titik friksi antara Budapest dan sekutu-sekutunya di Barat.

Pemilu ini pun dipandang banyak pihak sebagai pilihan strategis antara melanjutkan kedekatan dengan Timur atau kembali ke orbit Barat.

Meski demikian, jalan ke depan tidak sepenuhnya mulus. Belum ada kepastian apakah Tisza akan mengamankan mayoritas dua pertiga kursi di parlemen, yang diperlukan untuk melakukan perubahan besar pada sistem hukum dan institusi negara.

Selain itu, warisan struktur kekuasaan lama yang dibangun selama lebih dari satu dekade berpotensi menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan baru.

Penulis: Tim Ekopol
Editor: Ramses