Rupiah Tembus Rp 17.000 per Dolar AS, Akibat Akumulasi Tekanan Eksternal Menguat

IMG-20260325-WA0220

LINGKARMEDIA.COM – Pengamat memproyeksikan rupiah menembus Rp 17.000 per dolar AS akibat gejolak global, seperti konflik di Timur Tengah yang memicu penguatan dolar AS dan arus keluar modal dari negara berkembang.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyatakan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari kombinasi faktor global dan domestik yang saling memperkuat.

“Pelemahan Rupiah di pasar offshore hingga menembus level psikologis 17.000 mencerminkan akumulasi tekanan eksternal yang signifikan selama penutupan pasar domestik,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).

Ia menjelaskan, penguatan indeks dolar AS didorong oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta sinyal kebijakan suku bunga tinggi yang lebih lama dari pejabat bank sentral Amerika Serikat. Selain itu, posisi Indonesia sebagai importir neto minyak mentah turut memperbesar risiko terhadap defisit transaksi berjalan dan inflasi domestik.

“Memasuki periode pasca-libur Lebaran 2026, pergerakan Rupiah diprediksi akan menghadapi volatilitas tinggi dengan kecenderungan konsolidasi di area bawah 17.000 seiring dibukanya kembali pasar domestik,” tuturnya.

Menurutnya, meski terdapat peluang penguatan terbatas jika tensi geopolitik mereda, pasar tetap cenderung berhati-hati. Hal ini dipengaruhi oleh faktor musiman seperti repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri yang biasanya meningkat pada kuartal kedua.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah ke level Rp 16.997 per dolar AS pada penutupan perdagangan 25 Maret 2026, menunjukkan pelemahan 0,13% dari penutupan sebelumnya.

Adapun penyebab pelemahan nilai tukar rupiah adalah:

– Sentimen global risk-off Ketidakpastian geopolitik akibat konflik di Timur Tengah meningkatkan permintaan terhadap aset safe-haven seperti dolar AS.

– Penutupan Selat Hormuz Penutupan jalur pelayaran vital ini berdampak pada kenaikan harga minyak dan mengganggu pasokan energi global, memperparah sentimen negatif pasar.

– Perkembangan inflasi AS

Inflasi AS yang relatif stabil memicu ekspektasi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneternya, yang turut memperkuat dolar AS.

– Arus keluar modal asing Ketidakpastian global mendorong investor untuk menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

– Defisit anggaran Indonesia

Kabar mengenai potensi defisit anggaran yang melebihi 3% dari produk domestik bruto juga menambah tekanan pada pasar keuangan domestik.

Di sisi kebijakan, Bank Indonesia diperkirakan akan mengintensifkan langkah stabilisasi, termasuk melalui intervensi di pasar spot, DNDF, dan surat berharga negara. Upaya tersebut juga akan diperkuat dengan optimalisasi instrumen moneter valas guna menjaga likuiditas serta meredam volatilitas nilai tukar dalam jangka pendek.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan di pasar domestik, tercermin dari kurs yang ditawarkan sejumlah bank besar di Indonesia pada Rabu, 25 Maret 2026. Mayoritas bank mencatat level jual dolar sudah berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS.

Berdasarkan data yang dihimpun, kurs e-Rate di Bank Central Asia (BCA) menetapkan harga beli di Rp 16.915,00 dan jual Rp 17.105,00. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) mematok kurs beli Rp 16.838,00 dan jual Rp 17.139,00.

Di sisi lain, Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat kurs beli Rp16.898,00 dan jual Rp 17.103,00. Adapun Bank Mandiri meski menggunakan data per 17 Maret 2026 menunjukkan kurs beli Rp 16.950,00 dan jual Rp 16.980,00, masih sedikit di bawah level Rp 17.000 untuk harga jual.

Perbedaan tipis antarbank mencerminkan kondisi pasar yang relatif seragam, dengan tekanan terhadap rupiah yang belum mereda. Level jual yang konsisten di atas Rp 17.000 mengindikasikan dolar AS masih perkasa di pasar domestik.

Sentimen global menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah. Indeks dolar AS tercatat kembali menguat mendekati level 99,5 pada Selasa, 24 Maret 2026, setelah sebelumnya sempat melemah.

Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Iran menegaskan tidak ada pembicaraan untuk mengakhiri konflik dan membantah klaim dari mantan Presiden AS Donald Trump. Bahkan, Teheran dilaporkan melancarkan serangan baru terhadap target Amerika Serikat, sementara Israel terus menggencarkan operasi militernya ke wilayah Iran.

 

Penulis: Tim Ekopol

Editor: Ramses