Sekda Sumenep: Jabatan atau Martir Politik?

IMG-20260219-WA0266

Oleh: Gus Dolla

Kalau saja Bupati Sumenep memiliki hak prerogatif penuh memilih Sekda, mungkin urusannya sederhana. Siapa yang diyakini paling tepat, dipilih. Selesai.

Persoalan menjadi rumit ketika ada “titipan”. Pertanyaan berikutnya: seberapa kuat daya titipan itu hingga mampu memengaruhi keputusan seorang kepala daerah?

Di sinilah publik mulai menimbang tiga nama yang kini berada di garis akhir.

1. Agus Dwi Saputra

Agus lahir di Tulungagung. Namun sejak lulus dari STPDN, ia langsung mengabdi di Sumenep. Kariernya berjalan bertahap: pernah menjadi ajudan Bupati Soekarno Marsaid, lalu naik sebagai Sekcam hingga Camat. Sebelum menjabat eselon dua.

Namanya mulai ramai diperbincangkan ketika dipercaya menjadi Ketua Panitia Resepsi Pernikahan putra MH Said Abdullah. Sebagian menafsirkan, kedekatan itu mewakili alumni STPDN/IPDN yang selama ini dikenal solid.

2. Rahman Riyadi

Nama Rahman awalnya tidak banyak diperhitungkan. Tiba-tiba ia masuk tiga besar, menyodok nama-nama yang selama ini mengklaim dekat dengan lingkar kekuasaan.

Publik bertanya: apa kelebihannya?

Pertanyaan itu wajar. Sosok Rahman terlihat biasa saja, tidak dikenal sebagai figur yang lengket dengan penguasa. Namun, justru di situlah letak misterinya. Ada kelebihan yang tak elok diurai terbuka karena bersifat personal.

Yang jelas, jejaknya pernah terlihat ketika pada 2017 ia lolos seleksi pejabat eselon dua, sementara sejumlah nama yang merasa lebih dekat dengan penguasa justru tersisih.

3. Chainur Rasyid

Nama Chainur Rasyid nyaris tak masuk radar banyak jurnalis. Namun menjelang pendaftaran dibuka, peta berubah.

Seorang jurnalis berbisik, “Peta Sekda berubah, Mas. Pak Inung menguat.”

Rasa penasaran muncul. Ketika ditimbang dari berbagai sisi, potensinya ada meski awalnya masih menyisakan keraguan. Dan benar saja, namanya kini berdiri sejajar di tiga besar.

Lalu, Siapa yang Layak?

Pada akhirnya, jabatan Sekda bukan sekadar posisi administratif. Ia adalah mesin utama birokrasi — sekaligus, dalam banyak kasus, menjadi martir kepentingan politik kepala daerah.

Publik boleh menebak.

Siapa di antara tiga calon itu yang siap menjadi martir?

Tak elok rasanya menyebutnya terlalu telanjang satu per satu.

 

Red. Lingkarmedia.com