Menuju Masa Depan Energi Terbarukan dan Berkelanjutan

IMG-20260126-WA0034

LINGKARMEDIA.COM – Indonesia memiliki potensi energi matahari yang cukup besar yakni 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp, namun yang dimanfaatkan baru sekitar 10 MWp. Energi Matahari ini adalah energi bersih yang menjadi kunci menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Ironisnya, Indonesia saat ini menghadapi krisis energi bersih dan lingkungan yang mendesak. Ketergantungan pada batubara sebagai sumber utama energi menyebabkan lebih dari 60% emisi karbon nasional, mengancam sumber daya alam dan kesehatan masyarakat. Polusi udara dari pembangkit listrik batubara dan emisi kendaraan menjadi penyebab utama masalah kesehatan, dengan lebih dari 1,5 juta kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) setiap tahun.

Bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak, dan gas, berkontribusi sekitar 90% dari total emisi karbon dioksida secara global. Para ilmuwan menekankan urgensi untuk mengurangi emisi sekitar setengahnya pada tahun 2030 dan mencapai nol emisi pada tahun 2050 agar dapat menghindari dampak paling buruk dari perubahan iklim.

Meskipun bahan bakar fosil masih mendominasi dalam produksi energi dunia, sumber energi terbarukan seperti angin, matahari, air, dan panas bumi saat ini menyediakan sekitar 29% dari total pasokan listrik secara global. Artinya, secara perlahan transisi tersebut dimungkinkan terjadi.

Terdapat kaitan antara energi bersih, pembangunan sosial-ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan. Hal ini pun memiliki pengaruh besar dalam mengatasi tantangan yang dihadapi oleh masyarakat rentan di berbagai belahan dunia.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki akses ke energi bersih, kekurangan pasokan listrik yang dapat diandalkan dapat menjadi hambatan untuk pendidikan, perawatan kesehatan, dan peluang ekonomi.

Banyak negara berkembang masih sangat mengandalkan bahan bakar fosil, yang tidak hanya menciptakan polusi dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga turut meningkatkan kemiskinan.

Tanpa langkah konkret untuk beralih ke energi terbarukan, masa depan kita terancam. Dengan potensi energi surya mencapai 207,8 GW dan energi angin sebesar 60,6 GW, Indonesia memiliki peluang untuk beralih ke sumber energi bersih.

Transisi menuju energi terbarukan adalah langkah penting untuk menghadapi tantangan lingkungan yang kita hadapi saat ini, terutama dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan dampak negatif dari penggunaan energi fosil. Dengan menggantikan sumber energi konvensional seperti batu bara dan minyak dengan energi surya, angin, dan biomassa, kita tidak hanya mengurangi polusi udara tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi bersih.

Pemerintah memiliki peran vital dalam mendukung transisi ini. Alih-alih terus berinvestasi dalam proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga fosil yang merusak lingkungan, sudah saatnya untuk beralih ke pengembangan infrastruktur energi terbarukan. Ini termasuk pemasangan panel surya di bangunan publik, pengembangan ladang angin, dan peningkatan efisiensi energi di industri.

Tentang Energi Bersih

Energi bersih (clean energy) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sumber energi yang memiliki dampak negatif minimal terhadap lingkungan. Fokus utamanya adalah pada emisi karbon yang rendah atau bahkan nol. Energi jenis ini tidak menghasilkan polusi udara yang signifikan, terutama dalam bentuk gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂) atau metana (CH₄).

Sumber energi bersih bertujuan mendukung penurunan emisi global dan menjaga kualitas udara, serta menjadi bagian penting dari strategi mitigasi perubahan iklim dalam kerangka ESG.

Yang termasuk Energi Bersih diantaranya:

– Tenaga matahari (solar energy), mengubah sinar matahari menjadi listrik tanpa emisi.

– Energi angin (wind power), menghasilkan listrik melalui turbin angin tanpa membakar bahan bakar fosil.

– Panas bumi atau geothermal (masih menjadi perdebatan), walaupun emisi sangat rendah tapi punya dampak negatif terkait lingkungan sekitarnya.

– Energi nuklir (masih menjadi perdebatan), tidak menghasilkan emisi karbon saat pembangkitan, tetapi menghadirkan tantangan limbah radioaktif.

Tentang Energi Hijau

Energi hijau (Green Energy) mengacu pada sumber energi yang tidak hanya bersih, tetapi juga berasal dari proses alami yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Energi ini tidak merusak ekosistem, tidak mencemari tanah, air maupun udara serta tidak meninggalkan limbah berbahaya.

Energi hijau sering berasal dari alam dan proses biologis, serta dianggap paling selaras dengan prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab ekologis.

Namun, tidak semua energi hijau termasuk dalam kategori energi bersih secara sempurna. Misalnya, beberapa teknologi biomassa dianggap hijau karena memanfaatkan limbah organik, tetapi dapat menghasilkan polusi udara saat dibakar.

Contoh Energi Hijau seperti energi matahari, energi tenaga angin, energi biomassa (tergantung pada metode penggunaannya) dan energi hidro kecil atau mikrohidro yang tidak merusak aliran air alami.

Tentang Energi Terbarukan

Energi terbarukan (renewable energy) adalah energi yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui secara alami dan terus-menerus. Energi jenis ini dianggap sebagai alternatif dari energi fosil karena pasokannya yang tidak terbatas oleh waktu.

Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua energi terbarukan sepenuhnya bersih atau ramah lingkungan. Beberapa bentuk energi terbarukan, seperti PLTA besar, dapat berdampak negatif terhadap lingkungan dan ekosistem lokal, misalnya dengan membendung sungai atau mengganggu keanekaragaman hayati perairan.

Contoh energi terbarukan seperti energi surya, energi tenaga angin, energi air (hydropower), energi panas bumi dan energi biomassa (dari limbah pertanian atau hutan

Menurut informasi dari National Grid, energi bersih itu fokus pada emisi — tidak mencemari udara.

Energi hijau fokus pada dampak ekologis — tidak merusak lingkungan dan energi terbarukan itu fokus pada ketersediaan — bisa diperbarui secara alami.

Dalam implementasi ESG, perusahaan dan lembaga pemerintah kini dituntut untuk melaporkan secara transparan mengenai sumber energi yang digunakan dalam operasional mereka. Pilihan antara energi bersih, hijau, atau terbarukan akan memengaruhi jejak karbon organisasi, risiko lingkungan jangka panjang dan jepercayaan publik dan investor.

Energi yang bersih erat kaitannya dengan perubahan iklim. Penggunaan sumber energi bersih juga menjadi komponen yang mampu melawan dampak perubahan iklim. Oleh sebab itu, untuk memitigasi perubahan iklim, diperlukan transisi dari ketergantungan pada bahan bakar fosil. Sebaiknya, terus berupaya fokus pada investasi dalam sumber energi alternatif yang bersih, mudah diakses, ekonomis, berkelanjutan, dan dapat diandalkan.

Penulis: Tim Keadilan Ekologis

Editor: Ramses