Siswa SMPN 19 Tangsel Korban Perundungan Akhirnya Meninggal Dunia

IMG-20251117-WA0136

LINGKARMEDIA.COM – Siswa SMP Negeri 19 Tangerang Selatan (Tangsel) berinisal MH, korban kasus perundungan (bullying) yang sempat dirawat selama sepekan lebih di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, akhirnya meninggal dunia.

“Jam setengah enam setelah salat subuh, saya dikabarin jika Hisyam udah gak ada. Korban sempat kritis selama satu pekan di ruang ICU di RSUP Fatmawati,” ujar Alvian kuasa hukum keluarga korban.

Y (38), ibunda dari siswa SMP Negeri 19 di Tangerang Selatan (Tangsel) MH (13) mengatakan sang anak diduga sejak lama diduga menjadi korban pembullyan temannya di sekolah.

Hal itu terungkap dari perilaku sang anak yang kerap menunjukkan sikap tertutup dan mengalami luka di bagian tubuh.

“Pertama kali itu awalnya pas MPLS. Awal dari MPLS udah kena juga dia, ditabokin sampai tiga kali,” ujar Y saat ditemui di Serpong, Tangsel, Senin (10/11/2025).

Korban kerap dapat perlakuan intimidasi dari teman sekelasnya dengan cara ditendang, dipukul, bahkan ditusuk dengan sedotan.

“Sering ditusukin sama sedotan tangannya. Kalau lagi belajar, ditendang lengannya. Asal nulis ditendang, sama punggungnya itu dipukul,” sambung dia.

Menurut Y, tindakan yang diduga bullying itu terus berlanjut hingga Oktober 2025. Puncak kejadian pada Senin (20/10/2025).

Saat itu, kata dia, sang anak mengaku dipukuli oleh orang yang sama dengan kursi besi hingga mengalami benjol di bagian kepalanya.

Namun, korban tidak langsung bercerita kepada keluarga karena takut. Terlebih, kondisi Y yang saat itu baru saja pulang dari ICU karena harus rawat jalan.

“Dia enggak langsung bilang karena hari itu saya juga habis keluar dari ruang ICU, dia takut,” kata Y.

Korban baru mengakui yang dialaminya, Selasa (21/10/2025). Saat itu, sang ibu melihat gerak gerik korban yang aneh. Korban disebut sering linglung saat berjalan, bahkan ia melihat ada yang aneh pada gerak gerik matanya.

Karena penasaran, Y pun menanyakan hal itu kepada MH. Namun awalnya sang anak tidak mau mengaku, hingga akhirnya dipaksa dan baru mengakui dugaan bullying yang dialaminya.

Awalnya, sang anak mengaku hanya dijedotin tetapi karena terus didesak, akhir ia mengaku dipukul dengan menggunakan kursi besi.

“Saya mikir, kok dijedotin tapi ada di tengah ubun-ubun gitu. Terus dia bilang, ‘bukan dijedotin mah tapi dipukul pakai bangku’, bangku yang kursi sekolah besi itu,” kata dia.

Kaget dengar pernyataan sang anak, Y langsung mengadukan hal tersebut ke pihak sekolah.

Sementara itu, kakak sepupu korban, RF (29), mengatakan keluarga korban sempat melakukan mediasi dengan pihak sekolah dan keluarga terduga pelaku, Rabu (22/10/2025).

Dalam pertemuan itu, keluarga terduga pelaku disebut bersedia menanggung biaya pengobatan korban hingga sembuh.

Namun, keluarga korban justru merasakan sebaliknya. RF mengatakan komitmen tersebut tidak dijalankan dan berhenti di tengah pengobatan.

“Awalnya pihak pelaku mau tanggung jawab penuh. Tapi waktu korban dibawa ke RS Fatmawati, keluarga pelaku malah lepas tangan, sampai nyuruh orangtua korban cari pinjaman uang sendiri,” kata RF.

“Kondisinya lemah, agak linglung. Sejak Jumat dia sempat pingsan dan belum sadar penuh,” kata dia.

Ia mengatakan, setelah kejadian itu, pengelihatan korban menurun dan sisi kiri kondisi tubuhnya susah untuk digerakan.

Namun, setelah sempat dinyatakan membaik, kondisi MH kembali menurun hingga akhirnya harus dirawat di ruang ICU.

“Sudah ada kesepakatan, pihak pelaku bertanggung jawab untuk biaya pengobatan korban,” ujar Firda.

Sementara itu, Guru Bimbingan Konseling (BK) Sekolah itu, Sriwida, menyebut kejadian dugaan kekerasan terjadi pada 20 Oktober 2025 sekitar pukul 09.00 WIB, setelah jam istirahat.

Saat peristiwa itu, Sriwida mengatakan, tidak ada laporan atau aduan dari siswa yang bersangkutan.

Baik korban maupun temannya yang melakukan perundungan masih sekolah seperti biasa sampai tanggal 21 Oktober 2025.

Tetapi, pihak sekolah baru mendapat informasi dari orangtua korban pada sore hari tanggal 21 Oktober 2025. Setelah itu, mediasi dilakukan pada 22 Oktober 2025

Awalnya, pihak keluarga sudah membawanya ke Rumah Sakit Columbia BSD, hingga akhirnya dirujuk ke RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan.

Alvian mengatakan sejak dirawat di RS Fatmawati kondisi MH terus memburuk. Karena itu korban langsung dibawa ke rumah sakit setelah dua hari mediasi dengan keluarga terduga anak pelaku perundungan.

Lebih lanjut, pihak keluarga, lanjut Alvin, menyampaikan MH tidak memiliki riwayat penyakit bawaan sejak lahir dan belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.

Polisi telah memeriksa empat saksi dan melibatkan ahli untuk memastikan ada atau tidaknya unsur pidana.

Saat ini, jajaran Polres Tangsel mulai melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi dan ahli untuk mengungkap dugaan kasus yang menimpa korban berinisial MH (13).

Kapolres Tangsel, AKBP Victor Daniel Henry Inkiriwang menuturkan pihaknya juga bekerja sama dengan Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie beserta jajarannya dalam mengusut kasus tersebut.

Kapolres menyatakan jajarannya sudah tiga kali mendatangi SMPN 19. Sedikitnya lima orang sudah dimintai keterangan terkait kasus perundungan tersebut.

Victor berjanji polisi akan menangani kasus ini secara profesional. “Sampai saat ini kami masih melakukan penyelidikan,” ujarnya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong Polres Tangerang Selatan cepat tangani kasus perundungan (bullying) di SMPN 19 Kota Tangerang Selatan. Walaupun MH, anak korban telah meninggal dunia di Rumah Sakit Fatmawati.

“Kami berharap proses hukum berjalan. Kasus perundungan harus tuntas,” ujar Komisioner KPAI Diyah Puspitarini, Minggu (16/11/2025).

Menurutnya, agar hak anak yang meninggal dunia mendapat kejelasan penyebab kematian. Kemudian juga anak yang sudah meninggal tidak mendapatkan stigma negatif.

Diyah ingin hukum bisa tetap bisa ditegakkan. “Kami turut prihatin dengan kejadian ini, semoga ananda husnul khotimah,” do’anya menutup keterangan ke media.

Redaksi