Seminar Kebangsaan MPR Goes to Campus, Soroti Urgensi Transisi Energi

IMG-20250319-WA0018

Kabupaten Malang, lingkarmedia.com – Kurang lebih 200 orang mengikuti Seminar Kebangsaan MPR Goes to Campus. Dimana Wakil Ketua MPR RI Dr. Eddy Soeparno, SH., MH sebagai narasumber bersama Dosen Elektro, Dr. Ir. Machmud Effendy, S.T., M.Eng dan Doktor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. Kegiatan seminar yang mengangkat tema ” Urgensi Transisi Energi Mencegah Dampak Perubahan Iklim ” dilaksanakan di GKB IV Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  jalan Karya Wiguna Desa Tegalgondo Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang, Selasa (18/3/2025) siang.

 Hadir pada seminar kebangsaan diantaranya, Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H (Wakil Ketua MPR RI), Prof. Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si., M.Hum (Sekeretaris Rektor Univ. Muhammadiyah Malang), Wakil Rektor Univ. Muhammadiyah Malang : Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. (Wakil Rektor I UMM bidang pendidikan, pengajaran, dan teknologi digital UMM),

 Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., CA. (Wakil Rektor II bidang umum dan keuangan), Dr. Nur Subeki, M.T. (Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan dan alumni), Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD. (Wakil Rektor IV bidang riset, pengabdian, dan kerjasama UMM), Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. (Wakil Rektor V bidang pembinaan AIK dan pengembangan SDM), Dekan Univ. Muhammadiyah Malang, Dr. Ir. Machmud Effendy, S.T., M.Eng (Dosen Elektro) serta Mahasiswa Univ. Muhammadiyah Malang.

Dalam sambutannya, Sekretaris Rektor UMM mengucapakan terimakasih sudah mempercayakan UMM sebagai tempat seminar Kebangsaan MPR Goes to Campus.

Dalam pemaparannya, Sidik Sunaryo menyampaikan pentingnya isu energi bagi peradaban dunia. ” Isu energi adalah isu yang paling penting dalam peradaban dunia, bahkan isu global kedaulatan suatu bangsa selalu dikaitkan dengan Isu energi dan pangan. UMM dalam beberapa tahun terakhir sudah melakukan kajian dan terobosan walupun dalam skala kecil tapi kita sudah menterjemahkan tentang isu energi, ” jelasnya.

Pada kesempatan berbeda, Wakil Ketua MPR RI,  Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H menyampaikan saat ini pemerintahan Prabowo-Gibran memiliki target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, dimana permintaan energi akan meningkat. Untuk mempersiapkan permintaan Ini, menurutnya Indonesia harus meningkatkan pasokan energi namun tetap memperhatikan isu-isu lingkungan.

Lebih lanjut, Eddy Soeparno mengatakan, ” Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang sangat besar, sampai dengan 3,700 GW, dimana potensi energi solar (matahari) paling besar yakni 3.300 GW, disamping Panas Bumi, Air, Angin, Arus Laut, dan lain-lain . Di lain pihak, indonesia juga memiliki sumber-sumber energi fosil yang melimpah, khususnya batu bara dan migas “.

Kebutuhan energi nasional batubara menyumbang sekitar 61% dari pembangkitan listrik, mengingat cadangan batubara yang besar dan dominasi PLTU batubara. Bauran energi terbarukan saat ini sekitar 14%, jauh dari target 23% di tahun 2025. Berdasarkan RPP Kebijakan Energi Nasional, bauran energi terbarukan pada 2025 disesuaikan menjadi 17-19%.

“Di tengah melimpahnya sumber energi di dalam negeri, kebutuhan energi nasional ternyata masih bergantung pada impor khususnya BBM (minyak mentah, diesel, gasoline, minyak tanah) dan LPG, ” imbuhnya.

Masih menurut Eddy Soeparno, Ketahanan energi Indonesia saat ini termasuk rentan karena tingginya volume Impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sesungguhnya Indonesia mampu mencapai kemandirian energi nasional melalui transisi energi, dengan mengoptimalkan segenap sumber energi terbarukan di dalam negeri.Sehingga akan mengurangi ketergantungan pada energi yang selama ini diimpor, namun kendati demikian mengapa pertumbuhan sumber energi terbarukan di dalam negeri relatif lambat.

” Saatnya kampus terlibat aktif memberikan usulan kebijakan yang berbasis riset dari kampus. MPR RI siap memfasilitasi keikutsertaan kampus dari aspek kebijakan, legislasi dan pengawasan. MPR RI siap mendorong agar pemerintah memperkuat kolaborasi dengan kalangan akademisi dan kampus. Untuk pengembangan kebijakan energi terbarukan. Karena peran Universitas Muhammadiyah Malang sangat penting dalam risat dan inovasi. Salah satu prasyarat negara maju adalah memiliki world class university: Universitas Muhammadiyah Malang harus menggapai status universitas kelas dunia agar target Indonesia Emas 2045 menjadi kenyataan ,” kata Wakil Ketua MPR RI.

Menyinggung tentang transisi energi, Dosen Elektro, Dr. Ir. Machmud Effendy, S.T., M.Eng pada pemaparan dalam diskusi tersebut menjelaskan bahwa transisi energi adalah proses transformasi penyediaan dan pemanfaatan Energi Tak Terbarukan menjadi Energi Terbarukan (ET), penggunaan teknologi energi rendah karbon dan/atau efisiensi energi secara bertahap, terukur, rasional dan berkelanjutan untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Ditegaskannya, transisi energi merupakan hal yang paling urgent untuk segera dilakukan karena dapat mengatasi perubahan iklim

Energi fosil seperti batu bara, minyak, gas adalah penyumbang utama emisi gas rumah kaca (CO₂), mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Machmud Effendy menuturkan, ” Cadangan bahan bakar fosil semakin menipis dan harganya tidak stabil, meningkatkan ketahanan dan kemanan energi. Ketergantungan pada impor bahan bakar fosil membuat negara rentan Terhadap krisis energi dan fluktuasi harga global “.

” Teknologi Energi Bersih semakin maju dan efisien semakin memudahkan integrasi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan. Hal ini sejalan dengan Keputusan Pemerintah 23% energi terbarukan akhit 2025, Net Zero Emission (NZE) di tahun 2060 “, ungkapnya.

Ditegaskan oleh Machmud Effendy, pentingnya peran Perguruan Tinggi dalam transisi energi berperan sebagai mitra pemerintah dalam merancang regulasi terkait transisi energi serta memberikan rekomendasi berbasis penelitian untuk kebijakan energi nasional.

Dikatakannya, UMM saat ini telah berkontribusi mengurangi emisi karbon, dengan mengembangkan teknologi energi bersih dengan menghasilkan total energi hijau terbangkit PLTMH menghasilkan energi 7752 MWh, energi hijau terbangkit PLTS memghasilkan 71 MWh serta energi hijau terbangkit menghasilkan energi 7823 MWh dengan total pengurangan emisi karbon mencapai 7049 ton CO2.

(Ji)