Saifudin Zuhri : Ekowisata Desa Harus Mampu Sejahterakan Warga Tanpa Mengorbankan Lingkungan

IMG_20260715_103916

LINGKARMEDIA.COM – Potensi wisata alam yang melimpah di Kota Batu dinilai masih memiliki ruang besar untuk terus dikembangkan. Namun, pengembangan tersebut harus dilakukan dengan konsep yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Hal itu menjadi fokus pembahasan dalam kegiatan sosialisasi yang digelar Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur, Saifudin Zuhri, di Pusat Oleh-oleh Ken Dedes, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Selasa (14/7/2026).

Baca juga: https://lingkarmedia.com/okupansi-hotel-kota-batu-tembus-90-persen-jack-imam-pariwisata-butuh-pemimpin-yang-mampu-mengorkestrasi-potensi/

Mengusung tema “Dari Destinasi Menuju Inspirasi: Merawat Pesona, Menggerakkan Ekonomi Lokal”, kegiatan tersebut menghadirkan berbagai elemen masyarakat serta narasumber yang membahas strategi pengembangan sektor pariwisata berbasis potensi lokal.

Saifudin Zuhri yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Batu mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan membangkitkan kesadaran masyarakat agar lebih berani menggali dan mengembangkan potensi wisata yang ada di lingkungan masing-masing.

Menurutnya, Kota Batu memiliki kekayaan alam yang luar biasa, mulai dari pegunungan, kawasan pertanian, hingga desa-desa dengan karakter khas yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat.

“Kami ingin menggugah kesadaran masyarakat di Kota Batu terkait dengan bagaimana potensi-potensi wisata alam kita sebenarnya luar biasa,” ujar Saifudin kepada awak media.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Ia menilai, apabila masyarakat memiliki inspirasi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki di lingkungan atau desa masing-masing, maka manfaat ekonomi yang dihasilkan akan sangat besar. Pengembangan destinasi wisata tidak harus selalu bergantung pada investasi berskala besar, tetapi dapat dimulai dari kekuatan lokal yang dimiliki masyarakat.

“Kalau mereka mempunyai inspirasi sehingga dapat meningkatkan potensi di masing-masing lingkungannya atau di desanya, maka akan membawa dampak ekonomi yang sangat luar biasa,” katanya.

Saifudin menjelaskan, konsep pariwisata yang diharapkan ke depan adalah pemerataan manfaat ekonomi. Wisatawan tidak hanya berkunjung ke objek wisata besar, tetapi juga menikmati kehidupan desa, budaya masyarakat, hingga menginap di kawasan pedesaan yang memiliki panorama alam menarik.

Menurutnya, konsep tersebut akan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, mulai dari homestay, kuliner khas desa, produk UMKM, hingga jasa pemandu wisata.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

“Kita punya mimpi wisatawan itu tidurnya di kampung-kampung, di pinggir-pinggir wisata alam. Itu akan menarik sehingga fokus perekonomian dari kedatangan wisatawan tidak sekadar di pusat-pusat wisata yang besar, tetapi juga bisa masuk sampai di sektor-sektor di wilayah kampung dan pertanian,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pemerataan ekonomi melalui sektor pariwisata akan memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing Kota Batu sebagai daerah tujuan wisata nasional.

Sebagai bagian dari komitmen politik, Saifudin menegaskan bahwa PDI Perjuangan Kota Batu akan terus mendorong pengembangan seluruh potensi wisata yang ada agar mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Yang pasti kita akan selalu mendorong peningkatan seluruh potensi yang ada demi peningkatan pendapatan Kota Batu,” tegasnya.

Meski demikian, Saifudin mengingatkan bahwa pembangunan sektor pariwisata tidak boleh mengesampingkan aspek lingkungan. Menurutnya, keberhasilan sebuah destinasi wisata justru sangat bergantung pada kualitas alam yang tetap terjaga.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Ia menilai isu lingkungan harus menjadi perhatian utama dalam setiap proses pembangunan destinasi wisata agar tidak menimbulkan kerusakan yang justru merugikan masyarakat di masa depan.

“Yang tidak boleh dilupakan adalah terkait isu lingkungan yang tetap kita dorong terus dan dilaksanakan. Jangan sampai dengan kita mengembangkan destinasi wisata dan sebagainya kita melupakan isu-isu lingkungan tersebut,” tuturnya.

Saifudin juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kelestarian alam melalui berbagai langkah sederhana, seperti penghijauan, penanaman pohon, serta menjaga kebersihan lingkungan.

“Kita harus tetap merawat persoalan lingkungan. Menanam pohon dan sebagainya juga harus tetap dirawat serta dilakukan secara terus-menerus sambil melakukan pengembangan di sektor-sektor yang lain,” ujarnya.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Menurutnya, pembangunan destinasi wisata yang berkelanjutan hanya dapat diwujudkan apabila keseimbangan antara aspek ekonomi dan kelestarian lingkungan tetap dijaga.

“Potensi-potensi destinasi itu kita kembangkan tanpa harus melupakan isu lingkungan,” tambahnya.

Sementara itu, narasumber dalam kegiatan tersebut, Ir. Zaenul Arifin, menilai Kota Batu sudah memiliki identitas yang sangat kuat sebagai Kota Wisata Batu (KWB). Identitas tersebut, menurutnya, merupakan modal besar yang harus terus diperkuat melalui inovasi dan kreativitas dalam pengembangan sektor pariwisata.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Ia mengatakan, saat ini yang diperlukan bukan lagi membangun citra sebagai kota wisata, melainkan melakukan penajaman terhadap konsep pariwisata yang sesuai dengan karakter Kota Batu.

“Batu ini sudah jelas, tag linenya itu Kota Wisata Batu dan itu sulit untuk dihilangkan. Harusnya ada penajaman-penajaman tentang kreativitas pariwisata itu sendiri,” ujarnya.

Zaenul menilai pengembangan ekowisata dan desa wisata menjadi salah satu langkah yang perlu dipercepat. Selain menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan, konsep tersebut juga mampu memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat desa.

Menurutnya, potensi wisata berbasis komoditas masyarakat, pertanian, budaya lokal, hingga kehidupan pedesaan masih sangat besar untuk dikembangkan.

“Khususnya pariwisata yang lebih ke arah ekowisata dan wisata komoditas masyarakat seperti desa wisata itu seperti apa perkembangannya, itu perlu untuk diaselerasi,” katanya.

Ia berharap pergerakan sektor pariwisata Kota Batu tidak mengalami penurunan, melainkan terus tumbuh dari tahun ke tahun.

“Saya sebagai narasumber menginginkan Batu ini minimal sama tentang pergerakan pariwisatanya, tidak harusnya menurun, minimal sama bahkan harus naik,” ungkapnya.

Zaenul menegaskan bahwa keberhasilan sektor pariwisata tidak cukup hanya diukur dari ramainya jumlah wisatawan yang datang. Yang lebih penting adalah sejauh mana kehadiran wisatawan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Masyarakat harus memahami dan melihat bahwa wisata ini menguntungkan bagi perekonomian masyarakatnya. Bukan sekadar ramai tetapi tidak memberikan sesuatu. Hal-hal semacam ini menjadi tugas pemerintah daerah, khususnya Pemda dan DPRD, untuk mengkaji kembali bagaimana substansi pariwisata,” pungkasnya.

 

Penulis : Samsu

Editor: Ramses