Tradisi “Uri-Uri Budoyo” di Junrejo Batu Sukses Sedot Ratusan Peserta, Ruwatan Massal Jadi Sorotan
LINGKARMEDIA.COM – Dalam rangka menyambut bulan Suro atau Muharam, Sanggar Krido Budoyo yang berada di Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, sukses menggelar tradisi budaya Jawa bertajuk “Uri-Uri Budoyo”. Puncak acara yang berlangsung pada Minggu (21/6/2026) tersebut menjadi magnet bagi masyarakat luas, terutama melalui prosesi ritual ruwatan massal yang diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah.
Tradisi ruwatan sendiri merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang sarat makna spiritual. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, ruwatan menjadi bentuk penyucian diri yang bertujuan untuk memohon keselamatan, perlindungan dari mara bahaya, sekaligus membersihkan diri dari sukerta atau nasib buruk yang diyakini melekat pada seseorang.
Kegiatan ini digagas langsung oleh pemilik Sanggar Krido Budoyo, Sampurno, sebagai bentuk komitmen keluarga dalam menjaga dan melestarikan budaya leluhur di tengah derasnya arus modernisasi. Menurutnya, budaya Jawa tidak boleh hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi penerus.
“Ini adalah wujud komitmen kami sebagai keluarga seniman untuk terus menjaga warisan leluhur. Kami ingin mengingatkan masyarakat akan pentingnya ritual penyucian diri, terutama bagi anak-anak yang memiliki kategori khusus menurut adat Jawa,” ujar Sampurno.
Ia mengaku awalnya kegiatan ini hanya ditargetkan diikuti sekitar 10 hingga 20 peserta. Namun antusiasme masyarakat yang begitu tinggi membuat panitia harus menyesuaikan pelaksanaan teknis. Tercatat lebih dari 100 orang mendaftarkan diri untuk mengikuti prosesi ruwatan.

“Respon masyarakat sangat luar biasa, bahkan melebihi ekspektasi kami. Karena idealnya dalam satu sesi hanya bisa menampung sekitar 50 sampai 70 orang, akhirnya kami membagi ritual menjadi dua sesi sejak kemarin,” jelasnya.
Menariknya, peserta yang datang tidak hanya berasal dari wilayah Malang Raya. Banyak di antaranya datang dari luar kota seperti Mojokerto, Kediri, hingga Kepanjen. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi ruwatan masih memiliki tempat penting di hati masyarakat Jawa, meski zaman terus berkembang.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Sebagian besar peserta yang mengikuti ritual ini masuk dalam kategori sukerta, yakni kondisi khusus menurut adat Jawa yang dipercaya memerlukan prosesi ruwatan. Misalnya anak tunggal atau ontang-anting, serta pasangan anak laki-laki dan perempuan yang dikenal dengan istilah gentono-gentini.
Prosesi ruwatan dipimpin langsung oleh dua dalang berpengalaman, yakni Ki Hanafi dan Ki Sutaji asal Blitar. Dengan tata cara adat yang masih dijaga keasliannya, ritual berlangsung khidmat dan penuh penghayatan.
Tak hanya prosesi ruwatan, kemeriahan acara juga semakin terasa dengan digelarnya pagelaran wayang kulit pada Minggu malam. Suasana Jalan Gang Pande, Desa Junrejo, pun dipenuhi nuansa budaya yang kental, lengkap dengan alunan gamelan yang mengiringi jalannya pertunjukan.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Salah satu daya tarik utama dalam acara ini adalah penggunaan perangkat gamelan dan wayang kulit yang memiliki nilai historis tinggi. Sampurno menjelaskan bahwa seluruh instrumen tersebut merupakan karya tangan sang ayah yang dibuat sejak tahun 1962.
“Wayang dan gamelan ini adalah karya bapak saya sendiri tahun 1962. Kami adalah keluarga budaya yang ingin terus melestarikan warisan ini tanpa pamrih, menjaga keasliannya dari generasi ke generasi,” ungkapnya.
Warisan tersebut menjadi simbol bahwa keluarga Sampurno tidak hanya sekadar menyelenggarakan acara budaya, tetapi benar-benar hidup dan tumbuh bersama nilai-nilai tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Selain pagelaran wayang, acara juga semakin meriah dengan keterlibatan aktif ibu-ibu Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kota Batu. Mereka tampil membawakan seni panembromo dan tari Gading Alit yang menambah kekayaan unsur budaya dalam kegiatan tersebut.
Sampurno menegaskan bahwa rangkaian “Uri-Uri Budoyo” tidak berhenti pada acara puncak Minggu ini saja. Pihaknya telah menyiapkan agenda lanjutan pada 26, 27, dan 28 Juni mendatang.
Pada rangkaian berikutnya, masyarakat akan disuguhkan acara “Gebyak”, yakni pertunjukan budaya yang lebih menekankan pada aspek ritual dan kesakralan bulan Suro. Menurutnya, bulan Suro merupakan momentum penting dalam tradisi Jawa untuk melakukan introspeksi, penyucian diri, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Melalui kegiatan ini, Sanggar Krido Budoyo berharap dapat menjadi mercusuar pelestarian budaya Jawa di Kota Batu. Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, mereka ingin memastikan nilai-nilai tradisional tetap hidup dan tidak luntur ditelan perubahan.
“Budaya adalah jati diri bangsa. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi. Harapan kami generasi muda bisa ikut mencintai, memahami, dan melestarikan budaya Jawa,” pungkas Sampurno.
Penulis: Samsu
Editor: Ramses








