Gempa Tektonik M5,9 Guncang Laut Maluku, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami

20260522080742.mmi

LINGKARMEDIA.COM – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,9 mengguncang wilayah Laut Maluku pada Jumat pagi (22/5/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Gempa terjadi pada pukul 08.05.09 WIB dan dirasakan di sejumlah wilayah di Sulawesi Utara hingga Maluku Utara. Berdasarkan hasil analisis BMKG, episenter gempa berada pada koordinat 1,17° Lintang Utara dan 126,14° Bujur Timur atau tepatnya berada di laut sekitar 117 kilometer arah tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 38 kilometer.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/jpu-kpk-ungkap-dirjen-bea-cukai-diduga-terima-suap-rp61-miliar-dari-bos-blueray-cargo/

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas deformasi batuan di dalam Lempeng Laut Maluku.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi ini merupakan jenis gempa bumi dangkal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan geser naik atau oblique thrust,” ujar Wijayanto di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

BMKG mencatat getaran gempa dirasakan di beberapa daerah dengan skala intensitas berbeda. Di wilayah Batang Dua, getaran dirasakan pada skala III-IV MMI, yang berarti gempa dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah pada siang hari. Sementara di Sofifi, Halmahera Barat, Tidore, dan Manado, gempa dirasakan pada skala II-III MMI, yakni getaran terasa nyata di dalam rumah seperti ada truk besar yang melintas.

Meski guncangan cukup terasa di sejumlah wilayah, BMKG memastikan hasil pemodelan menunjukkan gempa tersebut tidak memiliki potensi tsunami. Hingga pukul 08.20 WIB, hasil monitoring BMKG juga belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan atau aftershock.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Kendati demikian, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan dampak gempa, terutama pada bangunan yang mengalami kerusakan akibat getaran. BMKG meminta warga untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Masyarakat diharapkan menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG dan instansi terkait,” lanjut Wijayanto.

Wilayah Indonesia sendiri berada di kawasan cincin api Pasifik atau Ring of Fire yang membuat aktivitas gempa bumi kerap terjadi akibat pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif. Laut Maluku merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas seismik cukup tinggi karena berada di zona pertemuan lempeng besar yang aktif bergerak.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut. Aktivitas masyarakat di sejumlah daerah yang merasakan guncangan dilaporkan tetap berjalan normal.

BMKG terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas seismik di wilayah Laut Maluku dan meminta masyarakat tetap mengikuti informasi resmi yang disampaikan melalui kanal komunikasi BMKG.

 

Penulis: Panji

Editor: Ramses