Mengenal Tetralogi Bumi Manusia, Buku Pramoedya Ananta Toer

IMG-20260206-WA0045

LINGKARMEDIA.COM – Tetralogi Bumi Manusia atau yang dikenal juga sebagai Tetralogi Pulau Buru merupakan empat seri novel Indonesia karya penulis Pramoedya Ananta Toer. Keempat judul tersebut adalah Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988). Tiga bulan sejak diterbitkan, Bumi Manusia seketika menjadi novel Indonesia terlaris dan terus dicetak ulang hingga kini.

Kepopuleran Tetralogi Bumi Manusia tak luput dari nama sang penulis, Pramoedya Ananta Toer. Bahkan sebelum serial ini terbit, ia sudah termasuk sebagai sastrawan Indonesia yang berpengaruh. Ia telah menerbitkan lebih dari 50 karya, lebih dari 42 di antaranya diterjemahkan dalam bahasa asing. Pramoedya juga dikenal sebagai anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra.

Keterlibatannya dengan Lekra inilah yang membuatnya ditangkap pada masa Orde Baru dan ditahan selama 14 tahun di Nusakambangan dan Pulau Buru. Pada masa tahanannya di Pulau Buru inilah ia kemudian menulis Tetralogi Bumi Manusia. Walau dilarang menulis di penjara, ia kerap menyelundupkan naskahnya lewat tamu-tamu yang berkunjung ke Pulau Buru.

Kisah yang dihadirkan Pramoedya dalam Bumi Manusia begitu kompleks, menggambarkan konflik sosial, budaya, dan politik pada masa kolonial. Tidak hanya menceritakan perjuangan individu, buku ini juga menggambarkan realitas keras yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia kala itu.

Keempat seri novel Indonesia ini menceritakan kehidupan masyarakat di era kolonial hingga periode kelahiran gerakan nasional melalui kisah seorang pemuda Jawa bernama Minke. Ia adalah segelintir orang muda yang beruntung bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya.

Dalam buku pertama, Bumi Manusia, Minke dikenalkan sebagai pemuda cerdas yang pandai menulis dan memiliki pandangan logis. Minke adalah representasi dari perjuangan kaum intelektual Pribumi dalam menghadapi penjajahan. Meskipun terlahir di keluarga Jawa yang terikat oleh tradisi, Minke justru tak ingin terlibat dalam pakem tradisi. Ia percaya dengan konsep egalitarianisme dan ingin menganggap semua orang sebagai pihak yang sederajat.

Bumi Manusia juga memperkenalkan kita pada karakter-karakter yang akan membentuk kisah hidup Minke. Seperti Annelies Mellema, gadis keturunan campuran Indo – Eropah yang dicintainya.

Hubungan Minke dan Annelies berkembang menjadi cinta yang mendalam, meskipun menghadapi berbagai rintangan. Salah satunya adalah penolakan dari keluarga Minke dan tekanan sosial yang menganggap Nyai sebagai wanita tanpa moral. Tidak hanya itu, konflik dengan Robert Mellema, saudara Annelies, dan hukum kolonial semakin memperumit kisah cinta mereka.

Puncak cerita terjadi ketika Annelies harus dipisahkan dari Minke dan Nyai Ontosoroh karena hukum Belanda. Perpisahan ini menjadi simbol ketidakadilan yang dihadapi oleh masyarakat Pribumi, menggambarkan betapa sulitnya melawan sistem yang tidak berpihak pada Pribumi pada masa itu.

Juga dengan Nyai Ontosoroh, seorang wanita Pribumi yang dijual oleh ayahnya kepada seorang pria Belanda. Meski status Nyai Ontosoroh hanya sebagai istri simpanan, ia berjuang untuk mengangkat derajat dirinya melalui pendidikan dan kerja keras. Meski statusnya sebagai Nyai dianggap rendah, ia berhasil membuktikan kemampuannya dalam mengelola perusahaan dan menjadi figur inspiratif bagi Minke.

Pembaca juga akan mendapatkan gambaran Hindia pada masa kolonialisme, dimana masyarakat masih terjebak dalam pandangan rasis dan sikap feodalisme, bahkan antar sesama pribumi.

Pada Anak Semua Bangsa, pembaca diajak menyelami ‘masa kebangkitan’ Minke, yang dipaksa untuk ‘mengenal’ bangsanya sendiri. Selama ini, Minke cenderung lebih dekat dengan kaum Belanda, bahkan ia menolak belajar Bahasa Jawa.

Minke mulai mencoba untuk mengenal kaum pribumi lebih dekat. Ia juga mulai menulis di surat kabar tentang kritik terhadap pemerintah kolonial dan kondisi masyarakat ketika itu.

Bahkan, Minke kemudian mendirikan surat kabar sendiri agar ia dapat memiliki kebebasan lebih untuk menulis tentang masyarakatnya dalam bahasanya sendiri dan dibaca oleh kaumnya sendiri.

Tulisan Pramoedya dalam Anak Semua Bangsa, menggambarkan tragedi dan nasib kaum terjajah yang menunjukan kecenderungan mental inferior, rasa curiga, dan ketakutan terhadap penjajah.

Selain itu diskriminasi secara hukum yang dialami oleh kaum pribumi juga semakin keras menindas. Minke yang mengalami kepahitan karena Annelies meninggal dunia pun akhirnya menyadari bahwa kesedihannya tidak seberapa jika dibandingkan kesengsaraan kaum pribumi di bawah penjajahan kolonial.

Buku ketiga yang bertajuk Jejak Langkah menceritakan kemunculan pergerakan nasional, lewat kelahiran berbagai organisasi pribumi di tanah air. Minke kemudian mulai belajar di STOVIA yang mendekatkannya dengan sosok-sosok yang memprakarsai organisasi pribumi di Hindia, hingga kemudian mendirikan Syarikat Dagang Islam sebagai upaya penyebaran ide mengenai kemerdekaan dan persatuan.

Novel keempat agak berbeda dengan tiga buku sebelumnya, karena tidak lagi menjadikan Minke sebagai sosok utama. Dalam Rumah Kaca, sosok Jacques Pangemanan menjadi karakter utama. Ia adalah keturunan Eropa asal Makassar yang bekerja di pemerintah kolonial. Asal usulnya sebagai yatim piatu yang diadopsi oleh seorang apoteker berkebangsaan Prancis membuatnya bisa mengecap pendidikan di Eropa, sebelum kemudian kembali ke Hindia dan bekerja sebagai polisi negeri.

Tugasnya sebagai polisi membuatnya terlibat dalam kehidupan Minke yang sangat kritis menyuarakan ketidakpuasan terhadap pemerintah kolonial. Jacques ikut bertanggung jawab dalam mengasingkan Minke ke Maluku, lalu menempati kediaman Minke.

Banyak hal yang kerap terlewatkan dalam Tetralogi Bumi Manusia. Seperti konflik lahan di era kolonial yang ternyata masih banyak dialami oleh masyarakat Indonesia saat ini. Kepemilikan lahan oleh para penguasa besar kerap kali membuat masyarakat asli kerap terasing di lahannya sendiri.

Pembaca juga bisa melihat tafsir feminisme dalam sosok Nyai Ontosoroh yang merupakan perwakilan dari eksistensi perjuangan perempuan dalam keterpurukan dan ketertindasan dalam dunia laki-laki.

Keberanian dan perlawanan Nyai Ontosoroh terlihat dari perubahan status dari perempuan desa biasa menjadi seorang Nyai yang mandiri dan sukses mengelola usaha milik suaminya. Meskipun kalah dalam perlawanannya untuk mempertahankan Annelies, ia membuktikan bahwa telah melawan dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Kepiawaian Pram – sapaan akrab penulis kelahiran tahun 1925 ini— dalam meramu karakter dan kisah-kisah berlatarkan era kolonial memang tak perlu lagi diragukan. Meskipun bertuliskan kata ‘roman’ dalam sampul buku, keempat novel ini lebih dari sekadar kisah percintaan antara Minke dan Annelies. Sudah begitu banyak studi kontemporer yang mengkaji keempat buku Pram, bahkan dalam salah satu teori kajian budaya, buku ini memaparkan pemikiran tentang identitas bangsa. Tak sedikit yang menyandingkan buku-buku ini dengan tulisan karya filsuf Jacques Derrida yang terkenal dengan teori dekonstruksi dalam paham postmodernism.

Buku pertama, Bumi Manusia adalah bagian penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia, bahkan dunia. Buku ini menjadi satu-satunya novel Indonesia yang pernah menjadi kandidat peraih Nobel dalam bidang sastra.

Penulis: Tim Literasi Global

Editor: Ramses