Komisi B Dorong Festival Nyusu Bareng Jadi Ruang Kolaborasi Angkat Potensi Wisata dan Produk Unggulan

IMG_20261004_170034

Kota Batu, Lingkarmedia.com – Pelaksanaan Festival “Nyusu Bareng” di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, mendapat tanggapan positif dari kalangan legislatif. Kegiatan yang diinisiasi Forum Desa Wisata (Fordewi) Kota Batu tersebut dinilai menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah untuk mengangkat potensi unggulan daerah.

Hal tersebut disampaikan anggota Komisi B DPRD Kota Batu, Sujono Djonet, SE, saat menghadiri Festival “Nyusu Bareng” di Dusun Brau, Minggu (4/10/2026).

Baca juga: https://lingkarmedia.com/kelompok-peternak-sapi-margo-mulyo-angkat-potensi-wisata-dan-peternakan-dusun-brau/

Sujono Djonet yang juga merupakan warga Desa Gunungsari menilai kegiatan semacam itu penting untuk terus dikembangkan karena setiap wilayah di Kota Batu memiliki karakter, produk, serta potensi wisata yang berbeda. Menurutnya, potensi tersebut perlu dikemas secara kreatif agar memiliki nilai tambah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Intinya, potensi daerah itu harus diangkat dengan kemasan apa pun. Tinggal sekarang bagaimana Komisi B melihat ini suatu gerakan kultural, karena inisiatornya adalah Fordewi,” ujar Djonet.

Menurutnya, keberadaan Fordewi juga perlu diarahkan untuk menjadi wadah yang mampu memperkuat desa-desa wisata di Kota Batu. Hal tersebut penting agar pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada pembangunan destinasi, tetapi juga memberikan ruang bagi potensi lokal yang tumbuh dari masyarakat.

Ia mempertanyakan sejauh mana desa wisata telah mendapatkan ruang dalam kebijakan Pemerintah Kota Batu sebagai salah satu potensi unggulan daerah, khususnya dalam mengintegrasikan sektor pertanian dan pariwisata.

“Apakah desa wisata kita sudah mendapatkan ruang di kebijakan pemerintah Kota Batu sebagai potensi unggulan daerah antara pertanian dan pariwisata,” katanya.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Djonet mengatakan, kehadirannya dalam Festival “Nyusu Bareng” merupakan bentuk dukungan Komisi B DPRD Kota Batu terhadap kegiatan masyarakat yang memiliki dampak positif bagi pengembangan potensi daerah.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebatas menjadi acara seremonial atau menghadirkan keramaian sesaat. Lebih dari itu, manfaat ekonomi dan pariwisata diharapkan dapat dirasakan masyarakat secara luas.

“Komisi B mendorong, saya hadir di sini mewakili Komisi B berharap dari kegiatan ini tidak hanya hingar-bingarnya yang terdengar, akan tetapi juga berkah pariwisatanya dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas,” ungkapnya.

Dorong Pengembangan Paket Wisata Live In

Dusun Brau sendiri memiliki potensi wisata yang cukup khas. Selain dikenal dengan aktivitas peternakan sapi perah dan produksi susu, wilayah tersebut menawarkan paket wisata berbasis pengalaman melalui program live in.

Dalam paket tersebut, wisatawan dapat bermalam di lingkungan Dusun Brau sekaligus belajar secara langsung mengenai kehidupan peternak sapi perah, mulai dari aktivitas sehari-hari hingga mengenal proses pengelolaan peternakan.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Menurut Djonet, konsep wisata seperti ini justru memiliki nilai tersendiri karena menawarkan pengalaman yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat dan kultur lokal.

Namun, agar paket wisata tersebut dapat berkembang secara optimal, menurutnya perlu dibarengi dengan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia.

“Persoalannya adalah kesiapan dari infrastruktur kita, kesiapan SDM kita. Maka Forum Desa Wisata itu harus bergerak sampai ke titik itu. Sehingga pelayanan pariwisata memenuhi standar,” jelasnya.

Ia menilai pengembangan desa wisata harus dilakukan secara bersama-sama. Pemenuhan standar pelayanan menjadi bagian penting agar wisatawan yang datang tidak hanya mendapatkan pengalaman unik, tetapi juga merasa nyaman selama berada di lokasi.

Kebersihan dan Keramahan Jadi Kunci

Djonet juga menekankan pentingnya penerapan Sapta Pesona dalam pengembangan wisata berbasis masyarakat. Menurutnya, desa wisata tidak harus menawarkan fasilitas mewah dengan biaya tinggi.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Justru, keunggulan desa wisata kultural dapat muncul dari hal-hal sederhana yang menjadi kekuatan masyarakat setempat, seperti kebersihan, kenyamanan, keramahan, dan pengalaman autentik.

“Yang namanya desa wisata kultural tidak harus mahal. Potensi yang ada di desa, rumah-rumah penduduk itu faktor kebersihan dan higienis,” tambahnya.

Ia mencontohkan produk susu yang dihasilkan para peternak di Dusun Brau. Menurutnya, kualitas produk saja tidak cukup apabila tidak didukung dengan cara penyajian dan pelayanan yang baik.

“Kesempurnaan di dalam pariwisata untuk standar pelayanan adalah kebersihan, keramahan. Sebagus apa pun produk kita seperti susu tetapi ketika tidak bersih penyajiannya, pelayanan tidak ramah maka tidak akan nikmat, tidak akan istimewa,” tuturnya.

Djonet menambahkan, pengalaman wisata yang berkesan tidak selalu ditentukan oleh mahalnya fasilitas. Wisatawan justru dapat memperoleh kesan istimewa ketika mendapatkan pelayanan yang ramah, lingkungan yang bersih, serta tempat beristirahat yang nyaman.

“Termasuk bagaimana menikmati desa wisata itu tidak harus mahal, yang menjadi istimewa ketika bisa tidur nyaman,” imbuhnya.

Brau Dinilai Punya Aset Promosi Daerah

Lebih lanjut, Djonet menyebut produk susu yang dikelola kelompok peternak sapi Margo Mulyo telah dikenal hingga sejumlah kota di luar Jawa Timur. Bahkan, kelompok peternak tersebut disebut telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan aset daerah yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari strategi promosi Kota Batu. Keberadaan sentra produksi susu di Dusun Brau menunjukkan bahwa potensi pertanian dan peternakan dapat dikolaborasikan dengan sektor pariwisata.

“Ini tentu menjadi sebuah aset daerah, dimana Batu ternyata ada kampung produksi susu yang memberikan kontribusi sebagai bentuk promosi daerah atau marketing kepada daerah lain,” ujarnya.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Ia berharap pola pengembangan seperti yang dilakukan di Dusun Brau dapat ditiru oleh desa-desa lainnya di Kota Batu. Setiap desa, menurutnya, memiliki potensi unggulan masing-masing yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Tinggal potensi-potensi seperti di Brau ini bisa dilakukan oleh desa lain dimana desa itu mempunyai produk unggulan,” pungkas Djonet.

 

Penulis: Samsu