Okupansi Hotel Kota Batu Tembus 90 Persen, Jack Imam: Pariwisata Butuh Pemimpin yang Mampu Mengorkestrasi Potensi

IMG_20260706_213242_1

LINGKARMEDIA.COM – Tingkat okupansi hotel di Kota Batu yang mencapai sekitar 90 persen pada awal libur panjang tahun ini menjadi fenomena yang menarik perhatian pelaku industri pariwisata. Capaian tersebut bahkan disebut melampaui tingkat hunian saat momentum pergantian tahun 2025, yang selama ini dikenal sebagai salah satu puncak kunjungan wisatawan ke Kota Batu.

Pengamat sekaligus pelaku usaha pariwisata, Imam Khoirudin atau yang akrab disapa Jack Imam, menilai lonjakan okupansi tersebut bukan terjadi secara kebetulan. Menurut Presiden International Organisation of Business and Tourism (IOBT) itu, tingginya jumlah wisatawan merupakan hasil dari akumulasi berbagai faktor yang akhirnya bertemu dalam satu momentum yang tepat.

“Khususnya di Kota Batu, saya melihat ada fenomena menarik. Kenapa okupansi dua hari kemarin justru mampu mengalahkan momentum 31 Desember 2025. Saya melihatnya seperti bola salju yang menggelinding, butuh sebuah momen sampai akhirnya membesar,” ujar Jack Imam kepada Lingkarmedia.com, Sabtu (11/7/2026).

Baca juga: https://lingkarmedia.com/okupansi-hotel-di-kota-batu-tembus-90-persen-pada-liburan-sekolah-2026/

Ia mengingat kembali kondisi saat pandemi Covid-19 ketika sektor pariwisata sempat mengalami perubahan pola kunjungan. Setelah pembatasan aktivitas dicabut, masyarakat memiliki keinginan besar untuk kembali melakukan perjalanan wisata.

“Saat pandemi dan setelah pembatasan mulai dibuka, jumlah tamu yang datang ke Kota Batu sempat luar biasa. Mereka masih memiliki kemampuan untuk berwisata. Namun setelah itu sempat terjadi penurunan karena berbagai faktor ekonomi,” katanya.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Menurut Jack Imam saat didampingi Gimin Suhartono, fenomena lonjakan wisatawan pada libur panjang kali ini justru terjadi setelah sebelumnya muncul berbagai dinamika sosial di Indonesia, termasuk aksi demonstrasi di sejumlah daerah.

“Yang menarik, setelah ada gonjang-ganjing demonstrasi besar-besaran, ternyata Kota Batu justru dipenuhi wisatawan. Dari sudut pandang pelaku wisata, fenomena seperti ini cukup mudah dibaca,” ungkapnya.

Ia menilai, masyarakat Indonesia memiliki karakter yang unik dalam menentukan waktu berlibur. Meski kondisi ekonomi tidak selalu ideal, keinginan untuk menikmati waktu bersama keluarga tetap menjadi prioritas ketika momen yang tepat datang.

“Ini adalah momen akhir liburan sekolah. Entah uangnya berasal dari tabungan, hasil bekerja, bahkan mungkin dari pinjaman, masyarakat tetap memilih berlibur. Bukan berarti ekonomi sedang baik-baik saja, tetapi memang momentum liburan tidak ingin mereka lewatkan,” jelasnya.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Menurutnya, faktor psikologis masyarakat juga berpengaruh terhadap meningkatnya perjalanan wisata. Setelah menjalani rutinitas panjang dan menghadapi berbagai tekanan kehidupan, liburan menjadi kebutuhan yang dianggap penting.

“Masyarakat Indonesia memiliki semangat yang luar biasa. Di tengah berbagai tantangan mereka tetap ingin menikmati kebersamaan dengan keluarga. Itu yang saya lihat menjadi salah satu penyebab wisata Kota Batu kembali ramai,” tambahnya.

Meski mengapresiasi meningkatnya okupansi hotel, Jack Imam juga melontarkan kritik kepada pelaku industri perhotelan maupun Pemerintah Kota Batu. Ia menilai momentum tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal dari sisi strategi bisnis.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Menurutnya, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), para general manager hotel, hingga pemerintah daerah seharusnya mampu membaca tren peningkatan permintaan sejak jauh hari sehingga strategi penjualan dapat disusun lebih optimal.

“Saya memberikan autokritik kepada PHRI, para GM hotel, termasuk Pemerintah Kota Batu. Seharusnya mereka mampu membaca momentum ini lebih awal. Kalau sejak awal sudah diprediksi akan terjadi lonjakan wisatawan, tarif kamar bisa disesuaikan secara bertahap,” ujarnya.

Ia menyebut banyak hotel baru menaikkan harga kamar ketika tingkat hunian sudah hampir penuh sehingga potensi pendapatan yang lebih besar tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

“Kemarin tarif kamar sudah terlanjur murah. Ketika tamu mulai membludak, kenaikan harga baru dilakukan di akhir sehingga tambahan pendapatannya tidak terlalu besar. Padahal peluangnya sebenarnya sangat baik,” katanya.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Lebih jauh, Jack Imam menilai pengembangan sektor pariwisata Kota Batu masih berjalan secara parsial. Menurutnya, hotel, vila, restoran, destinasi wisata hingga pemerintah masih bergerak sendiri-sendiri tanpa strategi bersama yang terintegrasi.

Padahal, Kota Batu memiliki potensi wisata yang sangat lengkap mulai dari panorama pegunungan, udara sejuk, atraksi wisata buatan, seni budaya, hingga fasilitas akomodasi yang terus berkembang.

“Kota Batu membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki leadership kuat untuk mengorkestrasi seluruh potensi tersebut. Jangan sampai hotel berjalan sendiri, vila berjalan sendiri, tempat wisata juga berjalan sendiri. Semua harus memiliki arah yang sama,” tegasnya.

Ia mencontohkan keberhasilan Bali dalam membangun industri pariwisata yang mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan, termasuk ketika terjadi peristiwa Bom Bali beberapa tahun silam.

Menurutnya, Bali memiliki tata kelola pariwisata yang lebih terintegrasi sehingga mampu menjaga kepercayaan wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Bali memiliki sistem yang kuat. Wisatawannya tetap kembali karena pengelolaan destinasinya dilakukan secara bersama-sama. Mereka memiliki aturan yang dijaga dengan baik sehingga identitas daerah tetap kuat,” ujarnya.

Jack Imam berharap Kota Batu dapat belajar dari berbagai daerah yang berhasil mengembangkan sektor pariwisata secara berkelanjutan. Menurutnya, peningkatan jumlah wisatawan tidak boleh hanya dipandang sebagai keberuntungan sesaat, tetapi harus dijadikan dasar untuk menyusun strategi jangka panjang.

“Potensi Kota Batu sebenarnya sangat besar. Yang dibutuhkan sekarang adalah semangat, energi, strategi yang matang, serta keberanian mengambil langkah bersama agar sektor pariwisata terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

 

Penulis: Samsu

Editor: Ramses