PM Inggris Keir Starmer Nyatakan Mundur dari Jabatan Perdana Menteri

IMG_20260625_193725_copy_720x385

LINGKARMEDIA.COM – Perdana Menteri Inggris resmi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh pada Senin (22/6/2026). Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri masa jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, sesuai dengan sistem parlementer yang berlaku di negara itu.

Pengumuman tersebut disampaikan Starmer dalam pidato resmi di depan Downing Street 10, London, setelah berbulan-bulan menghadapi tekanan internal dari partainya sendiri akibat menurunnya popularitas serta meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap pemerintahannya.

Dalam pidatonya, Starmer menyebut keputusan mundur diambil setelah mendengar berbagai masukan dari anggota parlemen Partai Buruh.

“Saya telah mendengar jawaban dari fraksi parlemen partai saya dan menerima keputusan itu dengan lapang dada,” ujar Starmer.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/pemkab-cilacap-bersihkan-data-100-titik-sppg-fiktif-mapikor-desak-audit-nasional/

Menurut Starmer, dua tahun menjabat sebagai perdana menteri merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya. Ia mengklaim berhasil membawa Partai Buruh kembali memimpin pemerintahan Inggris setelah 14 tahun berada di luar kekuasaan.

Meski demikian, Starmer mengakui bahwa masa kepemimpinannya tidak luput dari berbagai tantangan dan kritik.

“Pertanyaan yang sekarang muncul bukan lagi siapa yang mampu membawa Partai Buruh menuju kekuasaan, tetapi apakah saya masih orang yang tepat untuk memimpin pada pemilu berikutnya,” katanya.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Dalam sistem politik Inggris, perdana menteri secara otomatis dijabat oleh ketua partai yang menguasai mayoritas kursi di parlemen. Karena itu, pengunduran diri Starmer sebagai ketua Partai Buruh juga berarti ia harus melepas kursi perdana menteri.

Keputusan ini menjadikan Starmer sebagai perdana menteri keempat Inggris yang mundur dalam kurun waktu lima tahun terakhir, sebuah catatan yang menunjukkan tingginya dinamika politik di negara tersebut.

Pengunduran diri Starmer juga terjadi sehari sebelum peringatan 10 tahun Brexit, momen bersejarah keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang jatuh pada 23 Juni 2026.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Tekanan terhadap Starmer semakin meningkat setelah rival internalnya, , meraih kemenangan telak dalam pemilihan sela (by-election) di daerah pemilihan Makerfield, Inggris barat laut.

Kemenangan Burnham dinilai menjadi sinyal kuat bahwa basis dukungan terhadap Starmer di internal partai mulai melemah. Sejumlah tokoh senior Partai Buruh, termasuk Menteri Luar Negeri Inggris , disebut ikut mendorong agar Starmer segera mundur.

Burnham, yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester sejak 2017, secara terbuka menyatakan siap maju dalam pemilihan ketua Partai Buruh yang akan digelar pada September mendatang.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Dalam pidato kemenangan by-election, Burnham menegaskan bahwa Partai Buruh harus segera berbenah jika ingin mempertahankan kekuasaan.

“Ini adalah kesempatan terakhir bagi partai untuk berubah,” ujar Burnham.

Jika berhasil memenangkan pemilihan internal, Burnham berpeluang besar menggantikan Starmer sebagai perdana menteri karena Partai Buruh masih menguasai mayoritas kursi di House of Commons.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Popularitas Starmer sendiri terus merosot dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan survei terbaru dari YouGov, hanya 19 persen warga Inggris yang memiliki pandangan positif terhadap dirinya. Bahkan, ia tercatat berada di posisi kesembilan dalam daftar politisi Partai Buruh paling populer.

Selain persoalan elektabilitas, Starmer juga sempat diterpa kontroversi terkait penunjukan sebagai Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat pada Desember 2024.

Nama Mandelson sempat disebut dalam dokumen kasus mendiang , yang memicu kritik terhadap keputusan Starmer.

Meski demikian, Starmer memastikan proses transisi kepemimpinan akan berjalan tertib dan stabil. Ia menyatakan tetap akan menjalankan tugas sebagai perdana menteri hingga pemilihan pemimpin baru selesai.

“Saya telah meminta Komite Eksekutif Nasional Partai Buruh untuk membuka pendaftaran calon ketua mulai 9 Juli dan memastikan pemimpin baru sudah dilantik sebelum parlemen kembali bersidang pada September,” katanya.

Keputusan mundur Starmer diperkirakan akan membawa perubahan besar dalam peta politik Inggris, terutama menjelang pemilihan umum mendatang. Pergantian kepemimpinan di tubuh Partai Buruh juga diyakini akan menjadi penentu arah kebijakan pemerintahan Inggris ke depan.

Kini perhatian publik tertuju pada siapa sosok yang akan menggantikan Starmer dan apakah Partai Buruh mampu mempertahankan dominasinya di tengah meningkatnya tekanan politik dari oposisi, termasuk partai sayap kanan Reform UK yang dipimpin .

 

Penulis: Ramses

Editor: Samsu