Semangat “Hamerti Bumi kang Aji”, Selamatan dan Festival Jenang Suro Desa Bumiaji Hidupkan Tradisi Leluhur

IMG_20260625_191815_copy_720x500

LINGKARMEDIA.COM – Suasana meriah penuh nuansa tradisional menyelimuti Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, dalam gelaran Selamatan Desa yang tahun ini mengusung tema “Hamerti Bumi kang Aji”, Kamis (25/6/2026). Tema tersebut memiliki makna mendalam, yakni menjaga, merawat, dan melestarikan Bumiaji sebagai warisan leluhur untuk generasi mendatang.

Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Gelora Arjuna Bumiaji itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan tahun baru Islam atau 1 Muharam, yang telah dimulai sejak 17 Juni 2026 dan akan berlangsung hingga Sabtu (27/6/2026). Salah satu agenda utama yang paling menarik perhatian masyarakat adalah Festival Jenang Suro, tradisi tahunan yang kini telah menjadi ikon budaya Desa Bumiaji.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/tradisi-bersih-dusun-pendem-warga-merajut-kebersamaan-lewat-pawai-budaya-dan-tumpengan/

Festival ini diikuti oleh 12 Rukun Warga (RW) se-Desa Bumiaji yang masing-masing menampilkan kreativitas dengan konsep berbeda. Setiap RW membangun replika suasana kampung tempo dulu, lengkap dengan bangunan tradisional, sajian makanan khas, hingga proses pembuatan jenang suro secara langsung.

Nuansa kehidupan masyarakat masa lampau terasa begitu kuat. Pengunjung yang datang seolah diajak kembali ke era sederhana, ketika gotong royong, kebersamaan, dan tradisi menjadi bagian utama dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Desa Edi Suyanto menjelaskan bahwa Festival Jenang Suro merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi bulan Muharam sekaligus upaya mempertahankan budaya lokal.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni budaya, tetapi juga menjadi media untuk memperkuat nilai gotong royong dan rasa persatuan antarwarga.

“Semoga Desa Bumiaji bisa lebih maju tanpa meninggalkan dasar budaya leluhur yang memang luhur,” ujar Edi saat ditemui di sela kegiatan.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Ia menambahkan bahwa festival ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi seluruh elemen masyarakat. Selain itu, festival ini juga menjadi ruang untuk mengenalkan hasil bumi Desa Bumiaji melalui simbol jenang suro yang memiliki filosofi kebersamaan dan rasa syukur.

“Ini merupakan salah satu agenda yang memang di samping mengangkat budaya, juga untuk mempererat tali silaturahmi semua RW di Bumiaji, sekaligus mengangkat hasil bumi desa yang diwujudkan dengan jenang suro,” jelasnya.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Edi juga menegaskan bahwa seluruh konsep dan kreativitas yang ditampilkan oleh peserta murni berasal dari ide masyarakat di masing-masing RW. Pemerintah desa hanya memberikan ruang dan dukungan agar semangat melestarikan tradisi tetap tumbuh.

“Ini ide-ide mereka sendiri, kami tidak pernah mengarahkan. Kami hanya mengajak mengangkat bulan Muharam ini tanpa meninggalkan budaya peninggalan leluhur kita semua,” tambahnya.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Festival Jenang Suro sendiri telah berjalan selama lima tahun. Awalnya, kegiatan ini hanya melibatkan empat dusun, namun seiring antusiasme masyarakat yang semakin besar, kini berkembang menjadi agenda tahunan desa dengan skala lebih luas.

Di tengah kemeriahan acara, Wali Kota Kota Batu, Nurochman, hadir langsung didampingi Kepala Desa Bumiaji untuk meninjau stand-stand peserta. Kehadiran orang nomor satu di Kota Batu itu disambut antusias oleh warga.

Dalam kunjungannya, Nurochman tidak hanya melihat hasil kreativitas warga, tetapi juga ikut membaur dengan masyarakat dalam proses pembuatan jenang suro. Momen tersebut menjadi simbol kedekatan antara pemerintah dengan masyarakat dalam menjaga tradisi.

Dalam sambutannya, Nurochman menyampaikan apresiasi atas kreativitas Pemerintah Desa Bumiaji dan seluruh warga yang telah berhasil menghadirkan konsep kehidupan tradisional masyarakat Bumiaji tempo dulu.

“Terima kasih atas kreasi dan inovasinya untuk mengangkat jati diri Desa Bumiaji yang merupakan salah satu budaya yang terus dikembangkan keberadaannya,” ucapnya.

Ia berharap, inovasi yang ditampilkan dalam festival tersebut tidak berhenti hanya sebagai bagian dari selamatan desa, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi potensi ekonomi kreatif yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Menurutnya, budaya dan tradisi lokal memiliki nilai ekonomi yang besar jika dikemas dengan baik, terutama sebagai daya tarik wisata budaya yang dapat memperkuat identitas Kota Batu.

Selain itu, Nurochman juga mengingatkan pentingnya menghormati para sesepuh dan pini sepuh sebagai penjaga sejarah serta penghubung nilai-nilai budaya dari masa ke masa.

“Kita semuanya harus memulyakan para sepuh dan pini sepuh sebagai penyambung sejarah tentang Bumiaji dan Kota Batu,” tegasnya.

Ia juga menyoroti filosofi tema “Hamerti Bumi kang Aji” yang dinilai sangat relevan dengan karakter Desa Bumiaji sebagai wilayah pertanian yang subur dan kaya akan tradisi.

Menurutnya, nama Bumiaji sendiri memiliki makna besar yang mencerminkan jati diri Kota Batu sebagai daerah agraris yang memiliki kekayaan alam sekaligus budaya yang harus dijaga bersama.

Menutup sambutannya, Nurochman mengajak seluruh masyarakat untuk terus mempertahankan budaya tradisional agar tidak tergerus perkembangan zaman dan teknologi.

Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, Selamatan Desa Bumiaji dan Festival Jenang Suro diharapkan menjadi warisan budaya yang tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan masyarakat, sekaligus memperkuat identitas Desa Bumiaji sebagai salah satu pusat pelestarian budaya di Kota Batu.

 

Penulis: Samsu

Editor: Ramses