Tradisi Perayaan Tahun Baru Imlek di Klenteng Hok Tek Bio Banjarnegara
LINGKARMEDIA.COM – Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi warga Tionghoa, khususnya penganut agama Konghucu. Perayaan Tahun Baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama penanggalan Tionghoa, dan berakhir dengan Cap Go Meh.
Perayaan Tahun Baru Imlek selalu menjadi waktu yang dinantikan untuk berbagi harapan, doa, dan semangat baru dengan keluarga, sahabat, hingga rekan kerja. Memasuki perayaan Tahun Baru China atau Imlek 2026, yang menandai masuknya Tahun Kuda Api, suasana suka cita semakin terasa dengan tradisi saling mengirimkan ucapan sebagai simbol mendoakan keberuntungan, kesehatan, dan kesuksesan di tahun yang baru.
Namun di balik kemeriahannya, Imlek kerap memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Salah satu yang paling sering adalah mengenai status Imlek itu sendiri, apakah Imlek merupakan hari raya agama tertentu, atau sekadar perayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun?
Banyak orang mengira Imlek hanya milik satu agama tertentu. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan tradisional masyarakat Tionghoa yang menandai pergantian tahun menurut kalender lunar. Perayaan ini lahir dari tradisi dan sistem penanggalan yang telah berkembang sejak lama, bukan dari ajaran satu agama tertentu.
Berdasarkan publikasi ilmiah berjudul “Perayaan Tahun Baru Imlek dalam Masyarakat Tionghoa di Indonesia” karya M. Ikhsan Tanggok dalam jurnal terbitan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Imlek di Indonesia kerap dikaitkan dengan agama Konghucu.
Kaitan ini muncul karena dalam perayaannya terdapat praktik sembahyang di kelenteng serta ritual penghormatan kepada leluhur, sehingga bagi umat Konghucu, Imlek dipandang memiliki makna keagamaan yang berkaitan dengan nilai ajaran dan sejarah Konghucu.
Namun, jurnal tersebut juga menjelaskan bahwa Imlek tidak selalu dimaknai sebagai perayaan agama oleh seluruh masyarakat Tionghoa. Sebagian besar merayakannya sebagai tradisi budaya dan momen kebersamaan keluarga, tanpa dikaitkan dengan ritual ibadah tertentu.
Dengan demikian, Imlek dapat dipahami sebagai perayaan budaya yang dalam praktiknya juga memiliki dimensi keagamaan bagi pemeluk agama tertentu. Pemaknaan terhadap Imlek pun berbeda-beda, bergantung pada latar belakang dan keyakinan masyarakat yang merayakannya.
Imlek di Banjarnegara diadakan di Klenteng Hok Tek Bio, yang merupakan klenteng Tri Dharma, tempat ibadah untuk tiga agama, yakni Konghucu, Tao, dan Budha.
Meskipun populasi umat Konghucu di Banjarnegara terus menurun, Agus, seorang keturunan etnis Tionghoa, tetap bersemangat menyambut Imlek dan menyiapkan berbagai hal untuk perayaan di klenteng.
Meskipun tidak semua umat Konghucu merayakan Imlek di klenteng Hok Tek Bio, Agus tetap berpartisipasi dalam perayaan ini.
Perayaan Imlek 2026 di Klenteng Hok Tek Bio Banjarnegara tak seperti di klenteng yang lain. Dari menjelang sore hingga malam perayaan pergantian tahun, tempat ibadah ini sepi. Tidak ada Barongsai, tidak ada kembang api. Pengakuannya dia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, menerimanya dan tetap bersyukur.
Sampai matahari terbenam, belum ada satu pun umat yang datang untuk bersembahyang. Bangku tamu yang telah ditata di ruang depan, belum ada yang menduduki. Teh dan kopi panas yang disediakan untuk para tamu belum tercicipi.
Hanya tampak pak Agusta yang memang sehari-hari bertugas merawat klenteng tersebut sejak 2019. Pak Agusta merupakan keturunan etnis Tionghoa asal Purwokerto yang terpanggil untuk merawat klenteng tersebut.
Tepat azan Magrib, saat belum ada umat yang datang, pak Agusta mengawali ritual. Ia khusyuk membakar dupa sembari berdoa menghadap patung-patung dewa di beberapa titik ruang. Aroma wangi langsung menyeruak.
Penentuan tanggal Tahun Baru Imlek tidak mengikuti kalender Masehi seperti kebanyakan hari besar nasional. Perayaannya mengacu pada kalender tradisional Tiongkok yang bersifat lunisolar, yakni sistem penanggalan yang mengkombinasikan peredaran bulan, matahari, serta siklus alam lainnya.
Mengutip penjelasan dari Wake Forest University dalam artikelnya Chinese New Year: How the Date Is Determined, Tahun Baru Imlek dirayakan pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin yang terjadi setiap 21 Desember.
Karena dasar perhitungannya berbeda dengan kalender Gregorian yang biasa kita gunakan, tanggal Imlek pun selalu berubah setiap tahun, dengan rentang waktu antara 21 Januari hingga 20 Februari.
Untuk tahun 2026, pemerintah Indonesia telah menetapkan jadwal resminya. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026, yang juga selaras dengan Kalender Hijriah 2026 Kementerian Agama RI, Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026.
Jejak Sejarah Imlek dari Dinasti ke Dinasti
Dalam sejarahnya, perayaan Tahun Baru Imlek berkembang seiring pergantian dinasti di Tiongkok. Pada masa Dinasti Shang (1600-1046 SM), masyarakat sudah menggelar ritual pengorbanan untuk menghormati dewa dan leluhur pada pergantian tahun.
Istilah “Nian” yang berarti tahun sendiri mulai digunakan pada Dinasti Zhou (1046-256 SM), saat tradisi persembahan kepada leluhur dan pemujaan alam semakin menguat.
Tanggal perayaan Imlek kemudian ditetapkan secara resmi pada masa Dinasti Han (202 SM-220 M), yaitu pada hari pertama bulan pertama kalender lunar. Di periode ini pula, tradisi membakar bambu untuk menciptakan suara keras sebagai simbol penolak bala mulai populer.
Memasuki era Dinasti Wei dan Jin (220-420), perayaan Imlek tidak hanya bernuansa ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momen keluarga. Tradisi membersihkan rumah, makan malam bersama, dan begadang di malam tahun baru muncul dari kebiasaan masyarakat biasa.
Kemudian, pada masa Dinasti Tang, Song, hingga Qing, perayaan Imlek semakin meriah dengan munculnya tarian naga dan singa, pertunjukan lampion, hingga kebiasaan mengunjungi kerabat dan teman.
Pada periode ini, fungsi Festival Musim Semi mulai bergeser dari ritual keagamaan menuju perayaan sosial dan hiburan, mirip dengan konsep Imlek modern.
Perayaan Imlek di Era Modern
Di era modern, perayaan Imlek juga mengalami perubahan. Pada 1912, pemerintah Tiongkok sempat menghapus penggunaan kalender lunar dan menjadikan 1 Januari sebagai awal tahun resmi. Namun, setelah 1949, perayaan Tahun Baru Lunar kembali diakui dan dinamai Festival Musim Semi (spring festival), serta ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Saat ini, perayaan Imlek tidak hanya diwarnai tradisi klasik seperti petasan dan makan malam keluarga, tetapi juga aktivitas modern seperti Gala Festival Musim Semi di CCTV, amplop merah digital, belanja daring, hingga perjalanan wisata. Perpaduan tradisi lama dan gaya hidup modern membuat Imlek tetap relevan dan dirayakan secara luas hingga kini.
Tradisi Saat Imlek
Perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya ditandai dengan kumpul keluarga dan hidangan khas, tetapi juga rangkaian tradisi yang sudah berkembang sejak ratusan hingga ribuan tahun lalu.
Mengacu pada laman China Highlights, berikut sejumlah tradisi yang dikenal dalam perayaan Imlek, baik yang masih dijalankan maupun yang kini mulai jarang ditemui.
1. Persembahan untuk Dewa Kompor Dapur
Salah satu tradisi lama yang dilakukan menjelang Imlek adalah ritual untuk Dewa Kompor Dapur. Dalam kepercayaan rakyat Tiongkok, dewa ini dipercaya naik ke surga pada 23 atau 24 bulan ke-12 kalender lunar untuk melaporkan perilaku setiap keluarga kepada Kaisar Giok.
Masyarakat dahulu menyiapkan persembahan berupa makanan manis, seperti kue gula, dengan harapan sang dewa hanya menyampaikan hal-hal baik. Mereka juga menempelkan bait doa di dapur sebagai simbol harapan akan kedamaian dan keberkahan. Namun, seiring perubahan gaya hidup dan minimnya dapur tradisional, ritual ini kini semakin jarang dilakukan.
2. Menikah Menjelang Tahun Baru
Menjelang Imlek, tepatnya antara 23 hingga 30 bulan ke-12 kalender lunar, diyakini tidak ada pantangan hari baik dan buruk. Karena itu, periode ini sering dimanfaatkan untuk melangsungkan pernikahan.
Saat ini, alasan dominannya yaitu karena libur panjang Festival Musim Semi memberi waktu luang bagi keluarga untuk berkumpul dan menggelar acara.
3. Menyiapkan Adonan dan Bakpao
Menjelang pergantian tahun, dapur-dapur di rumah menjadi sibuk dan penuh aktivitas. Pepatah lama menyebut jika 28 bulan ke-12 adalah waktu ideal untuk memfermentasi adonan, sementara di 29 nya digunakan untuk mengukus bakpao dan menyiapkan hidangan utama Imlek.
Bakpao sering dihias dengan titik merah sebagai simbol keberuntungan. Meski kini makanan siap saji mudah didapat, tradisi ini masih dikenang sebagai bagian penting dari persiapan Imlek tempo dulu.
4. Menyalakan Petasan Pembuka Tahun
Saat detik pergantian tahun tiba, petasan menjadi simbol paling khas. Tradisi menyalakan petasan tepat tengah malam dipercaya menandai berakhirnya tahun lama dan menyambut tahun baru. Suara keras diyakini membawa keberuntungan, terutama bagi usaha dan pertanian.
Namun, karena alasan keselamatan dan lingkungan, kebiasaan ini kini dibatasi atau dilarang di banyak kota besar di Tiongkok, meski masih dijumpai di wilayah pedesaan.
5. Pantangan Menyapu di Hari Pertama
Hari pertama Imlek dikenal sebagai momen menerima tamu dan berbagi angpao. Meski rumah bisa menjadi kotor, masyarakat tradisional menghindari menyapu atau membuang sampah karena diyakini dapat menyapu pergi keberuntungan. Oleh sebab itu, kegiatan bersih-bersih biasanya dilakukan sebelum malam tahun baru.
6. Persembahan untuk Dewa Keberuntungan
Pada hari ke-2 atau ke-5 Imlek, sebagian masyarakat mempersembahkan kurban kepada Dewa Keberuntungan, yang dalam cerita rakyat dikenal sebagai Dewa Lima Jalan.
Ritual ini dilakukan dengan harapan kelancaran rezeki dan usaha di tahun yang baru, terutama oleh para pedagang.
7. Pantangan Hari Ketiga dan Tradisi yang Mulai Ditinggalkan
Hari ketiga Imlek dikenal sebagai Hari Anjing Merah, yang dalam kepercayaan lama dianggap membawa kesialan. Karena itu, orang-orang memilih tetap di rumah dan tidak menerima tamu. Meski begitu, masyarakat modern kini cenderung mengabaikan pantangan ini.
Tradisi lain seperti menyambut kembali Dewa Kompor Dapur atau mengusir Dewa Kaum Miskin, yang populer pada masa Dinasti Tang juga semakin jarang ditemui dan lebih dikenal sebagai bagian dari sejarah budaya Imlek.
Penulis : Ramses
Editor : Samsu








