Kurang Lebih 100 Orang Diduga Keracunan Usai Konsumsi MBG di Cirebon

FB_IMG_1792545193062

CIREBON, Lingkarmedia.com – Kurang lebih 100 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026). Para korban terdiri dari anak-anak sekolah dan peserta posyandu yang mengalami sejumlah keluhan kesehatan, mulai dari mual, muntah, sakit perut hingga diare.

Pemerintah Kota Cirebon memastikan para korban telah mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan. Empat rumah sakit yang menangani pasien tersebut yakni RS Siloam Putera Bahagia, RSUD Gunung Jati, RS Ciremai, dan RS Cahaya Bunda.

Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengatakan pemerintah daerah memprioritaskan keselamatan dan pemulihan kondisi kesehatan seluruh korban. Penanganan medis dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

Sebagian pasien dilaporkan mulai menunjukkan perkembangan kondisi yang membaik. Bahkan, beberapa di antaranya telah diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan dan perawatan di rumah sakit.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/greenpeace-gelar-aksi-di-bundaran-hi-desak-pemerintah-perketat-kebijakan-krisis-iklim/

Meski demikian, pemerintah bersama pihak terkait masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah korban secara keseluruhan. Penelusuran juga dilakukan guna mengetahui kemungkinan hubungan antara makanan MBG yang dikonsumsi dengan gangguan kesehatan yang dialami para penerima manfaat.

Orang Tua Keluhkan Anak Muntah dan Diare

Dugaan keracunan tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua murid. Sejumlah orang tua mengaku anak-anak mereka mulai mengalami gangguan kesehatan sekitar pukul 15.00 WIB, setelah pulang sekolah.

Keluhan yang muncul di antaranya muntah berulang, sakit perut, hingga buang air besar secara terus-menerus. Melihat kondisi tersebut, para orang tua kemudian membawa anak-anak mereka ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Berdasarkan keterangan sejumlah murid yang mengonsumsi menu MBG, telur yang disajikan dalam makanan tersebut disebut memiliki rasa asam.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Informasi itu menjadi salah satu petunjuk awal yang perlu ditelusuri oleh petugas. Namun, rasa asam pada telur belum dapat dipastikan sebagai penyebab gangguan kesehatan yang dialami para korban.

Kepastian mengenai sumber dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan serta penyelidikan lebih lanjut mengenai proses pengolahan, penyimpanan, dan distribusinya.

Sampel Makanan Dikirim ke Laboratorium

Wali Kota Cirebon Effendi Edo menyampaikan bahwa sampel makanan yang diberikan kepada penerima manfaat telah diambil untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Salah satu menu yang menjadi perhatian dalam proses penelusuran adalah sup telur puyuh. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan adanya kontaminasi atau faktor lain yang menyebabkan munculnya keluhan kesehatan.

Hasil pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting untuk memastikan penyebab kejadian secara objektif. Karena itu, dugaan bahwa salah satu bahan makanan menjadi pemicu keracunan belum dapat dinyatakan sebagai kesimpulan resmi sebelum hasil pengujian diperoleh.

Lihat juga: https://www.facebook.com/share/1A1SqUKLWY/

Selain memeriksa sampel makanan, penelusuran terhadap tahapan penyediaan hingga pendistribusian MBG juga diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat persoalan dalam rantai pengolahan dan penyaluran makanan.

Operasional SPPG Ditangguhkan Sementara

Sebagai langkah awal untuk mengantisipasi risiko lebih lanjut, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan bagi penerima manfaat di wilayah Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, ditangguhkan sementara.

Kepala KPPG Cirebon, Yulian Septa Pratama, mengatakan penangguhan tersebut mulai berlaku pada Selasa (20/10) malam hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Pihaknya masih berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan rumah sakit untuk mendukung penanganan korban sekaligus memastikan pendataan penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan berjalan dengan baik.

SPPG tersebut diketahui melayani sekitar 2.500 penerima manfaat setiap hari. Namun, angka itu merupakan jumlah penerima layanan harian, bukan jumlah orang yang dilaporkan mengalami gejala dugaan keracunan.

Penangguhan operasional sementara dilakukan di tengah proses pemeriksaan dan penelusuran penyebab kejadian.

Pemerintah dan pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium serta perkembangan investigasi lebih lanjut. Hingga hasil tersebut tersedia, dugaan keterkaitan antara konsumsi MBG dan gangguan kesehatan para korban belum dapat dipastikan secara resmi.

Perkembangan kasus ini menjadi perhatian terhadap pentingnya pengawasan kualitas bahan pangan, kebersihan proses pengolahan, serta keamanan distribusi makanan dalam pelaksanaan program MBG, terutama bagi anak-anak sekolah dan kelompok penerima manfaat lainnya.

 

Penulis: Agus W