Kelompok Peternak Sapi Margo Mulyo Angkat Potensi Wisata dan Peternakan Dusun Brau

IMG_20261004_170138

Kota Batu, Lingkarmedia.com – Upaya mengangkat potensi peternakan, pertanian, wisata, dan ekonomi masyarakat terus dilakukan di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Salah satunya melalui Festival Nyusu Bareng yang digelar Forum Desa Wisata (Fordewi) Kota Batu bekerja sama dengan Kelompok Peternak Sapi Margo Mulyo Dusun Brau, Minggu (4/10/2026).

Mengusung tema “Setetes Susu Berjuta Gizi”, festival tersebut tidak hanya menjadi ajang hiburan masyarakat, tetapi sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai potensi lokal Dusun Brau kepada masyarakat dan wisatawan.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/mbg-disebut-jadi-emerging-market-yang-mendistorsi-pasar/

Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Dusun Brau itu berlangsung meriah. Ribuan peserta yang terdiri dari pelajar, guru, pendamping, serta masyarakat umum tampak antusias mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang telah disiapkan panitia.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian peserta adalah senam zumba yang berlangsung penuh semangat. Suasana semakin meriah dengan kehadiran masyarakat dan wisatawan yang ikut menikmati berbagai kegiatan dalam festival tersebut.

Festival Nyusu Bareng juga dibuka untuk masyarakat umum. Para wisatawan maupun pengunjung yang hadir dapat membeli kupon untuk mengikuti undian berhadiah yang menjadi salah satu bagian dari kegiatan.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Selain menampilkan potensi peternakan sapi perah, festival juga menghadirkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kehadiran UMKM tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk masyarakat sekaligus memperkuat potensi ekonomi lokal Dusun Brau.

Sejumlah hadiah juga diberikan kepada peserta melalui pengundian doorprize Festival Nyusu Bareng.

Dorong Wisatawan Kenal Potensi Lokal

Ketua Kelompok Peternak Sapi Dusun Brau, Munir, mengatakan Festival Nyusu Bareng diharapkan dapat menjadi sarana promosi potensi wisata lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Menurutnya, Dusun Brau memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Potensi tersebut tidak hanya berasal dari aktivitas peternakan sapi perah, tetapi juga sektor pertanian yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

“Harapannya melalui event ini potensi wisata lokal dapat dikenal masyarakat luas. Wisatawan nantinya mempunyai banyak pilihan, antara wisata buatan dan wisata lokal. Keduanya saling mendukung, saling mensupport, dan saling melengkapi,” ujar Munir.

Ia menjelaskan, masyarakat bersama kelompok peternak juga telah menyiapkan paket wisata yang menggabungkan berbagai aktivitas pertanian dan peternakan.

Konsep tersebut memungkinkan wisatawan mendapatkan pengalaman langsung mengenai kehidupan masyarakat pedesaan sekaligus menikmati potensi pertanian dan peternakan yang ada di Dusun Brau.

“Untuk paket wisata, kami menyediakan petik mawar, petik jeruk, petik apel dan peras susu,” jelasnya.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Dengan konsep tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi dapat terlibat langsung dalam aktivitas masyarakat. Pengalaman memetik hasil pertanian hingga memerah susu sapi diharapkan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata lokal Dusun Brau.

Kembangkan Produk Olahan Susu

Potensi peternakan sapi perah di Dusun Brau juga terus dikembangkan tidak hanya melalui produksi susu segar. KUD Margo Mulyo Mandiri turut mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar susu.

Sejumlah produk yang dikembangkan di antaranya keju, termasuk keju mozzarella, serta susu pasteurisasi. Produk susu pasteurisasi tersebut saat ini produksinya diperuntukkan bagi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Pengembangan produk olahan susu juga melibatkan masyarakat sekitar. Warga, khususnya ibu-ibu PKK, didorong untuk mengembangkan berbagai makanan olahan dengan menggunakan bahan dasar susu murni.

“Warga, khususnya ibu-ibu PKK, kami gerakkan untuk membuat makanan olahan yang bahan dasarnya dari susu murni,” imbuh Munir.

Pelibatan masyarakat tersebut dinilai penting agar keberadaan sentra peternakan tidak hanya menghasilkan bahan baku, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan peluang ekonomi bagi warga.

Dengan demikian, aktivitas peternakan dapat terhubung dengan sektor UMKM dan pariwisata sehingga menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang saling mendukung.

Kotoran Sapi Diolah Jadi Biogas

Selain aspek ekonomi dan pariwisata, pengembangan peternakan di Dusun Brau juga mulai diarahkan pada pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Mayoritas penduduk Dusun Brau diketahui berprofesi sebagai peternak sapi perah. Aktivitas peternakan tentu menghasilkan limbah berupa kotoran sapi dalam jumlah cukup besar. Namun, limbah tersebut tidak dibiarkan begitu saja.

Masyarakat memanfaatkannya untuk diolah menjadi biogas yang kemudian digunakan sebagai sumber energi rumah tangga.

Munir mengatakan, saat ini telah terdapat beberapa titik pengolahan biogas yang dimanfaatkan oleh masyarakat Dusun Brau.

“Dengan adanya biogas ini warga sangat terbantu. Tadinya ada biaya untuk membeli gas, sekarang tidak lagi sejak adanya biogas ini,” pungkasnya.

Pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas tersebut sekaligus menunjukkan bahwa potensi peternakan dapat dikembangkan secara terpadu. Selain menghasilkan susu sebagai produk utama, limbah peternakan juga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat.

Melalui Festival Nyusu Bareng, potensi Dusun Brau mulai diperkenalkan dalam satu kesatuan, mulai dari peternakan sapi perah, pertanian, produk olahan susu, UMKM, hingga pemanfaatan limbah peternakan menjadi energi alternatif.

Konsep tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Dusun Brau sebagai salah satu kawasan wisata berbasis masyarakat di Kota Batu, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga melalui kolaborasi antara sektor pertanian, peternakan, UMKM, dan pariwisata.

 

Penulis: Samsu