Ekonomi Global 11 September 2026: Thailand Siapkan Rp5,8 Triliun untuk Krisis Energi, OPEC Pangkas Proyeksi Minyak

IMG_20260912_100746

Lingkarmedia.com – Sejumlah perkembangan penting mewarnai perekonomian global pada 11 September 2026. Kebijakan anggaran Thailand untuk menghadapi gejolak harga energi, langkah Uni Eropa melindungi industri kendaraan listrik, hingga revisi proyeksi permintaan minyak oleh OPEC menjadi perhatian di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa negara-negara di berbagai kawasan masih menghadapi tekanan dari perubahan harga energi, persaingan industri, ketegangan geopolitik, serta arah kebijakan perdagangan dan moneter global.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/celios-kritik-rencana-200-juta-rekening-baru-dinilai-tak-mendesak-dan-berisiko-merugikan-masyarakat/

Thailand Siapkan Anggaran Hadapi Dampak Krisis Energi

Thailand menjadi salah satu negara yang mengambil langkah fiskal untuk menghadapi tekanan ekonomi akibat fluktuasi harga energi.

Pada 10 September 2026, Dewan Perwakilan Rakyat Thailand menyetujui rancangan Undang-Undang Anggaran Tahunan untuk tahun fiskal 2027. Rancangan tersebut mendapat dukungan 338 anggota parlemen, sementara 144 anggota menolak, dua abstain dan satu suara dinyatakan menolak.

Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah alokasi sekitar 12 miliar baht atau setara sekitar 365 juta dolar AS dari anggaran pusat.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Dana tersebut disiapkan untuk menangani persoalan sosial-ekonomi sekaligus merespons dampak perubahan harga energi yang dapat memberikan tekanan terhadap masyarakat maupun aktivitas ekonomi.

Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah Thailand menjaga stabilitas ekonomi ketika harga energi dan kondisi ekonomi global masih menghadapi ketidakpastian.

UE Perkuat Perlindungan Industri Kendaraan Listrik

Di Eropa, Uni Eropa tengah mempertimbangkan langkah untuk memperketat aturan yang berkaitan dengan subsidi dan insentif kendaraan listrik.

Rancangan kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan dukungan terhadap kendaraan listrik yang diproduksi di dalam negeri. Instrumen yang dipertimbangkan mencakup subsidi serta kebijakan pengadaan publik.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Langkah tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan persaingan terhadap industri otomotif Eropa. Perkembangan industri kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan persaingan antara produsen global, termasuk dalam hal harga, teknologi, kapasitas produksi dan rantai pasok.

Dengan memperkuat insentif bagi produk dalam negeri, UE berupaya menjaga daya saing industri otomotif sekaligus mendorong pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik di kawasan tersebut.

OPEC Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Permintaan Minyak

Sementara itu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC kembali menyesuaikan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global.

Pada 10 September, OPEC menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 menjadi sekitar 400.000 barel per hari.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Revisi tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global. Hambatan pertumbuhan ekonomi, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat menjadi sejumlah faktor yang diperhitungkan.

Penurunan proyeksi permintaan menjadi indikator bahwa pasar minyak masih menghadapi tantangan. Perubahan ekspektasi permintaan juga dapat memengaruhi strategi negara-negara produsen serta perkembangan harga energi global.

Pasar Keuangan Korea Selatan Bergejolak

Tekanan ekonomi global juga tercermin di pasar keuangan Korea Selatan pada 11 September.

Pasar mengalami volatilitas signifikan di tengah kekhawatiran terhadap konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut meningkatkan perhatian investor terhadap kemungkinan kenaikan harga minyak, tekanan inflasi serta potensi pergeseran kebijakan moneter menuju kondisi yang lebih ketat.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Indeks saham KOSPI mengalami penurunan tajam. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan meningkat hingga mencapai level tertinggi tahun ini. Won Korea juga terus mengalami tekanan terhadap dolar AS.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bagaimana ketegangan geopolitik dapat dengan cepat memengaruhi pasar keuangan melalui jalur harga energi, inflasi dan ekspektasi suku bunga.

Rusia dan India Kembangkan Pembayaran Digital

Di sektor keuangan internasional, Rusia dan India juga tengah mengupayakan terobosan dalam mekanisme pembayaran lintas batas.

CEO Sberbank Herman Gref mengatakan Bank Sentral Rusia bekerja sama dengan Reserve Bank of India atau RBI untuk mengembangkan mekanisme penggunaan mata uang digital dalam penyelesaian pembayaran perdagangan bilateral.

Menurut Gref, mekanisme tersebut berpotensi membuat transaksi perdagangan antara kedua negara menjadi lebih cepat dan efisien.

Pengembangan sistem pembayaran digital juga menjadi bagian dari upaya sejumlah negara mengurangi ketergantungan terhadap mekanisme pembayaran tradisional dalam perdagangan internasional.

China Targetkan Kendaraan Otonom Skala Besar pada 2030

Sementara itu, China menetapkan target ambisius dalam pengembangan industri kendaraan listrik pintar.

Kementerian Perindustrian China mengumumkan peta jalan pengembangan industri tersebut dengan target penerapan kendaraan otonom secara besar-besaran pada 2030.

Dalam peta jalan itu, teknologi swakemudi ditargetkan dapat diterapkan di jalan raya dan sejumlah ruas jalan perkotaan.

Kebijakan tersebut sekaligus memperlihatkan ambisi China untuk memperkuat posisi industri otomotif nasional di pasar global.

Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perekonomian dunia pada September 2026 masih bergerak di tengah berbagai tekanan. Energi, geopolitik, perdagangan, teknologi kendaraan listrik dan transformasi sistem keuangan menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan arah ekonomi global ke depan.

 

Red. Lingkar Research Institut