Debut di Usia 5 Tahun, Narendra Ahsan Raih Juara 2 Taekwondo Nasional

IMG-20261005-WA0202

MALANG, Lingkarmedia.com — Usianya baru enam tahun. Namun keberanian dan mental bertanding Narendra Ahsan Satya Negara sudah mampu mengantarkannya berdiri di podium kejuaraan taekwondo tingkat nasional.

Atlet cilik asal Kota Batu tersebut sukses meraih Juara 2 Kyorugi Semi Prestasi Pra Cadet A M-18 dalam ajang Indonesia Super Fight Taekwondo Championship 4, yang memperebutkan Piala Ketua Umum Pengprov TI Jawa Timur 2026.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/350-rider-cilik-ramaikan-playon-rono-rene-cosplay-carnival-series-2-di-kota-batu/

Kejuaraan tersebut berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di GOR Ken Arok, Kota Malang. Bagi Narendra, kompetisi ini menjadi pengalaman yang sangat berarti karena merupakan pertandingan resmi pertamanya setelah menjalani latihan taekwondo secara serius selama kurang lebih tiga bulan.

Tidak hanya menjadi arena adu kemampuan atlet muda, Indonesia Super Fight Taekwondo Championship 4 juga menjadi salah satu kejuaraan taekwondo tingkat nasional Grade C. Ajang yang pada 2026 ini digelar untuk pertama kalinya tersebut diikuti sekitar 2.054 atlet dari 94 kontingen.

Para peserta datang dari berbagai daerah, di antaranya Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali hingga Nusa Tenggara Timur.

Di tengah persaingan ribuan atlet muda tersebut, Narendra yang memperkuat N Taekwondo Club (NTC) Kota Batu justru mampu menunjukkan keberanian di atas matras. Dengan pengalaman bertanding yang masih sangat minim, ia berhasil melewati pertandingan demi pertandingan hingga akhirnya mengamankan posisi runner-up di kelasnya.

Baru Tiga Bulan Latihan, Langsung Naik Podium

Bagi anak seusianya, tampil dalam kejuaraan dengan jumlah peserta mencapai ribuan tentu bukan perkara mudah. Apalagi Narendra baru sekitar tiga bulan menjalani latihan taekwondo secara serius.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Namun, keterbatasan pengalaman tersebut tidak membuatnya kehilangan keberanian. Narendra justru mampu menunjukkan mental bertanding dan semangat untuk menghadapi lawan.

Medali perak yang diraihnya pun tidak sekadar menjadi penghargaan atas hasil pertandingan. Prestasi tersebut menjadi bukti awal bahwa keberanian, kedisiplinan, latihan, serta dukungan keluarga dan pelatih dapat menjadi modal penting bagi seorang atlet muda.

Dalam pertandingan kyorugi, seorang atlet tidak hanya membutuhkan keberanian. Kecepatan, teknik, stamina, strategi, konsentrasi serta kemampuan mengendalikan emosi juga menjadi bagian penting yang harus terus diasah.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Hal tersebut disadari oleh Nia, pelatih N Taekwondo Club Kota Batu. Ia mengaku bangga melihat keberanian anak didiknya yang berani tampil dalam kompetisi nasional meski masa latihannya masih sangat singkat.

“Alhamdulillah, kami sebagai pelatih sangat bangga dengan hasil yang diraih. Ini merupakan pertandingan pertama di usianya yang masih 5 tahun dan baru sekitar 3 bulan latihan, tapi sudah berani tampil dan bisa meraih Juara 2,” ujar Nia.

Meski berhasil membawa pulang medali perak, Nia menilai masih terdapat sejumlah aspek yang harus diperbaiki. Terutama menyangkut speed dan teknik bertanding.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Menurutnya, hasil yang diraih Narendra dalam debut tersebut bukanlah akhir dari proses, melainkan langkah awal untuk membangun kemampuan dan mental bertandingnya secara bertahap.

“Yang paling penting, anaknya tetap happy, semangat, menikmati proses latihan, dan ke depannya bisa terus berkembang,” katanya.

Nia berharap pencapaian Narendra dapat menjadi motivasi bagi atlet-atlet muda lainnya di NTC Kota Batu. Menurutnya, proses pembinaan atlet usia dini membutuhkan latihan yang konsisten sekaligus suasana yang membuat anak tetap menikmati olahraga yang ditekuninya.

Dengan dukungan orang tua, pelatih dan lingkungan latihan yang positif, ia optimistis para atlet muda NTC Kota Batu dapat terus berkembang dan memiliki kesempatan meraih prestasi lebih tinggi pada berbagai kejuaraan mendatang.

Mbah Semar: Menang atau Kalah Bagian dari Proses

Dukungan terhadap Narendra juga datang dari keluarga. Salah satunya dari sang kakek, Nyoto Sumartono, yang selama ini turut memberikan motivasi kepada cucunya.

Tokoh sepuh PSHT yang akrab disapa Mbah Semar tersebut mengaku bangga atas keberanian dan prestasi yang ditorehkan Ahsan, sapaan Narendra.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Baginya, keberhasilan seorang anak dalam olahraga tidak semata-mata diukur dari jumlah medali yang berhasil dikumpulkan. Lebih dari itu, proses latihan dan pertandingan menjadi ruang bagi anak untuk belajar mengenai keberanian, kedisiplinan, sportivitas dan tanggung jawab.

Kemenangan maupun kekalahan, menurutnya, sama-sama memiliki nilai dalam perjalanan seorang atlet. Dari pertandingan, seorang anak belajar menghadapi tekanan, menerima hasil, menghargai lawan dan berusaha memperbaiki kekurangan.

Karena itu, pencapaian Narendra di usia enam tahun diharapkan tidak menjadi beban untuk terus menang, melainkan menjadi pengalaman awal dalam membangun karakter dan kecintaan terhadap olahraga.

Medali perak dari debut nasional tersebut menjadi langkah pertama Narendra di dunia kompetisi taekwondo. Masih panjang perjalanan yang harus ditempuh. Namun, keberanian untuk naik ke atas matras setelah baru tiga bulan berlatih telah menjadi modal berharga untuk perjalanan berikutnya.

Bagi NTC Kota Batu dan keluarga, yang terpenting bukan sekadar seberapa cepat Narendra mengumpulkan medali, tetapi bagaimana proses tersebut membentuknya menjadi anak yang berani, disiplin, sportif, tetap rendah hati, dan menikmati setiap tahapan perjalanan sebagai seorang atlet.

 

Penulis: Samsu