BMKG Pantau Erupsi Gunung Anak Krakatau 24 Jam, Abu Vulkanik Capai 50.000 Kaki

IMG_20260907_075911

Jakarta, Lingkarmedia.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap atmosfer, keselamatan penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi sejumlah wilayah. Sebaran tersebut mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga wilayah Bengkulu.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/kebakaran-kawasan-hutan-konservasi-gunung-buthak-petugas-gabungan-berjibaku-padamkan-api/

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang langsung menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET) setelah erupsi awal Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB.

SIGMET merupakan peringatan dini yang digunakan dalam dunia penerbangan untuk memberikan informasi mengenai kondisi meteorologi signifikan yang berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan.

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, Minggu (6/9).

Hingga saat ini, BMKG telah menerbitkan sebanyak 18 SIGMET secara berkala. Penerbitan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan informasi mengenai pergerakan abu vulkanik dapat segera diterima oleh pemangku kepentingan penerbangan.

Erupsi anak Gunung Krakatau 4 September 2026

Andri menjelaskan, abu vulkanik pada lapisan hingga ketinggian 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran tersebut berpotensi melingkupi sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Sementara itu, abu vulkanik pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah yang masuk dalam jalur sebaran meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan hingga Samudra Hindia.

Pergerakan abu vulkanik tersebut menjadi perhatian serius bagi sektor penerbangan karena dapat memengaruhi operasional pesawat. Kondisi tersebut juga membuat status operasional sejumlah bandar udara mengalami perubahan.

Berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM) yang diterbitkan Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia pada 6 September 2026, terdapat penutupan sementara operasional sejumlah bandar udara pada waktu yang berbeda. Bandara yang terdampak antara lain Bandar Udara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto.

Kondisi operasional penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik serta informasi keselamatan penerbangan terbaru.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Penutupan sementara tersebut merupakan hasil koordinasi dan keputusan bersama berbagai pemangku kepentingan penerbangan nasional. Otoritas Bandar Udara berkoordinasi dengan BMKG, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia), pengelola bandar udara, Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU), InJourney, otoritas daerah, hingga TNI.

Koordinasi lintas sektor dilakukan untuk memastikan setiap keputusan yang diambil dalam kondisi darurat tetap menempatkan keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama.

AirNav Indonesia juga menerbitkan NOTAM sebagai pemberitahuan resmi terkait perubahan kondisi operasional maupun potensi bahaya di ruang udara. Informasi tersebut melengkapi peringatan Volcanic Ash Advisory dan SIGMET yang diterbitkan BMKG secara berkala.

Dengan adanya informasi tersebut, para pemangku kepentingan penerbangan dapat melakukan penyesuaian operasional berdasarkan perkembangan kondisi atmosfer dan ruang udara.

Kondisi Laut Selat Sunda

Di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, BMKG juga melakukan pemantauan terhadap kemungkinan dampak erupsi terhadap kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan pemantauan terhadap 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB belum menunjukkan adanya anomali muka air laut.

Selain itu, analisis menggunakan teknologi High-Frequency (HF) Radar Array yang berada di Carita dan Tanjung Lesung menunjukkan probabilitas tsunami berada pada tingkat rendah, yakni di bawah 40 persen. Pada saat pemantauan dilakukan, tinggi gelombang laut masih berada di kisaran satu meter.

“BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intensitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal,” ujar Ardhasena.

BMKG memastikan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus dilakukan secara nonstop dengan memanfaatkan berbagai instrumen. Sistem pemantauan terpadu tersebut mencakup pengamatan atmosfer, geofisika, kondisi laut, hingga perkembangan aktivitas vulkanik.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Data yang diperoleh kemudian dianalisis bersama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi untuk menghasilkan informasi yang cepat dan akurat.

BMKG mengimbau masyarakat, terutama warga yang beraktivitas maupun tinggal di sepanjang pesisir Selat Sunda, agar meningkatkan kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan.

Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya maupun menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi. Pembaruan mengenai kondisi erupsi, sebaran abu vulkanik, penerbangan, maupun kondisi laut hendaknya merujuk pada informasi resmi BMKG, Badan Geologi/PVMBG, serta instansi pemerintah yang berwenang.

Pemantauan 24 jam ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar setiap perubahan kondisi Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap masyarakat maupun sektor penerbangan dapat segera direspons secara terkoordinasi.

 

Penulis : Panji