Download Free Templates http://bigtheme.net/ Websites Templates
Jumat, 11 November 2016 23:36

Sudahi Pergulatan Tentang Ahok, Saatnya Membangun Jakarta Yang Lebih Baik

Ditulis oleh Ali Kuncoro
Ilustrasi Ilustrasi

Dalam minggu-minggu ini, Jakarta kembali ramaikan dengan polemik yang menghampiri Gubernur Non Aktif Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama. Hal tersebut terjadi setelah sebelumnya sepenggal rekaman video pernyataan Ahok beredar secara viral melalui jejaring facebook yang dianggap oleh sejumlah pihak berisi penghinaan kitab suci Al-quran dan Islam.

Dalam potongan video tersebut, Ahok menyentil surat Al Maidah ayat 51 yang dianggap sering digunakan oleh oknum untuk menyerang dirinya.

Hal tersebut disampaikan dalam kunjungannya ke kepulauan seribu pada tanggal 27 September 2016.

Video tersebut kemudian membuat geram sejumlah elemen organisasi otonom Muhammadiyah  seperti Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IPM) dan beberapa organisasi yang tergabung dalam Forum Penistaan Agama (FUPA). Pada tanggal 7 Oktober mereka mendatangi Polda Metro Jaya untuk melaporkan Ahok atas dugaan penistaan Agama.

Menyikapi adanya desakan yang kuat dari kelompok-kelompok Islam ini, Ahok bereaksi dengan meminta maaf kepada seluruh umat islam atas perkataannya yang dianggapnya menodai agama islam.

Dari ungkapan maaf tersebut Ahok mengklarifikasi jika ia tidak ada niat untuk menistakan agama manapun apalagi islam, walaupun demikian karena proses hukum sudah berlangsung maka kejadian ini pun terus diproses sesuai hukum yang berlaku di negeri ini.

Tidak berhenti disitu, bola yang sudah menggelinding ini perlahan membesar, kejadi ini kemudian merebak sampai ke perlawanan balik dari Kubu Ahok yang melaporkan Buni Yani.

Hal tersebut diungkap oleh Muannas Alaidid dalam pernyataan yang mengatakan jika video yang disebar oleh Buni Yani ketika Ahok berpidato di hadapan warga kepulauan seribu telah dipotong, sehingga menimbulkan keresahan masyarakat.

Buni yani lalu dilaporkan atas tuduhan pelanggaran UU ITE. Tak berselang lama kubu Buni Yani juga melaporkan balik kelompok Ahok dengan tuduhan pencemanran nama baik, karena ia merasa tidak menyunting video yang disebarnya.

Meyampaiakan rangkaian peristiwa Ahok yang banyak menimbulkan Pro dan Kontra, satu sisi menganggap jika Ahok dengan cara bicaranya di hadapan publik terkait dengan dugaan isu Saranya tidak perlu  diperdebatkan, sebab Ahok juga sudah menyatakan permintaan maafnya kepada umat Islam. Namun demikian kubu yang lain menganggap hal tersebut tidak bisa ditolerir, pernyataan Ahok sudah membuat sakit umat Islam. Perdebatan tersebut terus bergulir sampai saat ini.

Ada hal yang menarik untuk disimak dari kejadian ini, sebuah konsep kesempatan dalam kesempitan sedang berjalan, kenapa video tersebut disebar disaat momen politik Pilkada sedang menjadi sorotan publik. Kenapa isu SARA Ahok menjadi trending ketimbang isu SARA kelompok-kelompok yang juga pernah mengumbar hal yang sama? Dari pertanyaan tersebut kemudian melahirkan sebuah jawaban sederhana, jika ini dimanfaatkan untuk kepentingan pilkada tentu saja orientasinya sudah sangat politis praktis.

Namun jika memang isunnya ini adalah berkaitan dengan SARA, maka motif yang bisa dilacak adalah proses ketidaksukaan akan gaya kepemimpinan seseorang, jelasnya lagi ini persoalan rasa kemanusiaan.

Menurut saya jika persoalan politik digeser pada isu SARA, tentu saja sangat tidak tepat sekaligus tidak layak untuk dijadikan alat untuk menjatuhkan seseorang. Sebab persoalan sara itu adalah persoalan hati, jiwa dan rasa. Jika sudah masuk pada persoalan SARA maka ini akan sangat mudah  memuculkan konflik kemanusiaan yang berkepanjangan. Rawan bencana besar.

Untuk itu, menurut hemat saya, janganlah mengumbar sekaligus mencampur adukan persoalan politik dengan SARA, sebab keduanya berbeda makna dan lokasi, tidak ada sebuah pemilihan kepala daerah yang benar-benar demokratis jika isu sara kemudian menjadi legitimasi yang kuat untuk menjatuhkan lawan politik.

Masih banyak hal yang patut untuk diperdebatkan dan dikritiskan bahkan diviralkan di jejaring sosial. Seperti program-program kerja apa saja yang akan diusung para calon guubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung, apa misi besar mereka dalam mewujudkan Jakarta yang lebih baik. Membicarakan SARA,akan sia-sia bagi masa depan Jakarta. Kita seharusnya bahu-membahu mewujudkan Jakarta yang bersih, sehat dan demokratis dengan meningkatkan semangat kebersamaan dengan tetap kritis memilih pemimpin yang diinginkan rakyat.

Bukan malah sebaliknya memperkeruh suasana dengan cara-cara yang tidak etis, seperti mempersoalkan omongan Ahok yang sebenarnya sudah diklarifikasi dan meminta maaf. Saya pikir, kejadian Ahok yang meramaikan jagat Jakarta, kita jadian refleksi untuk pandai-pandai melihat persoalan isu, pun sama juga dengan Ahok dan manusia Indonesia pada umumnya, jika ingin didengarkan, maka berhati-hati dalam berbicara, karena mulit adalah senjata yang mematikan, mengutip kata Imam Asy-Syafi'i "jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum berbicara ia berfikir, jika jelas nampak maslahatnya, maka ia berbicara dan jika ragu-ragu, maka tidak berbicara sampai jelas maslahatnya".

Baca 161 kali

TERPOPULER

KABAR TERBARU