Download Free Templates http://bigtheme.net/ Websites Templates
Minggu, 02 April 2017 08:35

Kejagung Panggil 42 Saksi Terkait Pengadaan Kapal Angkut Pertamina

Ditulis oleh

Lingkarmedia.com - Jakarta, Kejaksaan Agung telah memanggil 42 saksi terkait tindak pidana korupsi dalam penyediaan dan operasi kapal PT. Pertamina Transkontinental.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung RI M. Rum mengatakan saat ini pihaknya telah memanggil 42 orang saksi terkait pengadaan Anchor Handling Tug Supply (AHTS) Transko Andalas dan Transko Celebes. 

“Pengadaan kapal yang dilakukan pada 2012-2014,” kata Rum di Jakarta, Sabtu (1/4/2017).

Dia mengatakan pada Kamis (30/3/2017) pihaknya juga telah meminta keterangan dari  Ahmad Zainullah Santoso, sebagai mantan Sekretaris Pengadaan AHTS, Danang Cahya Jatmika sebagai mantan Pengawas PT. Pertamina Transkontinental, serta Eva Mayasari Saragih sebagai mantan Asisten Manager Legal. 

Dia mengatakan para saksi ini menjelaskan bagaimana proses pengadaan kapal pengangkut ini, cara penentuan harga sendiri hingga lingkup perjanjian dalam pengadaan kedua kapal ini. 

Rum mengatakan meski sudah menemukan indikasi pidana korupsi, pihaknya belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. 

Sementara itu  dalam kesempatan terpisah, Koordinator Divisi Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Hendri mengharapkan kejaksaan dapat segera meningkatkan penangan kasus ini. Pasalnya dalam investigasi yang dilakukan oleh ICW terdapat sejumlah kejanggalan dalam pengadaan kapal ini. 

Febri mengatakan salah satu kejanggalan paling nyata adalah ketidaksesuaian spesifikasi kapal yang dibuat kontraktor dengan yang diserahterimakan. Dalam kontrak, disepakati gear box pada mesin utamanya merek Reintjes LAF 183P yang merupakan buatan Eropa. Namun, yang dipasang pada kapal Trans Celebes itu merk Twin Disc keluaran Amerika Serikat.

"Hasil pengujian menunjukan  mesinnya lebih cepat panas,” katanya.

Ia juga mencatat keanehan berupa keterlambatan penyerahan kapal dari kontraktor ke Pertamina. Menurut dia kapal pertama seharusnya diserahkan pada 25 Mei 2012 dan kapal kedua bernama 25 Juni 2012. Pada kenyataannya, kapal baru diserahkan pada 10 Agustus 2012 dan 8 Oktober 2012.

“Seharusnya kontraktor di denda 5.000 dollar AS perkapal per hari. Kalau dihitung keterlambatan 175 hari denda yang tidak ditagih oleh direksi Pertamina Transkontinental mencapai 875.000 dollar AS," katanya di kantor ICW, Jakarta.

Ia mengatakan persoalan cuaca yang dijadikan alasan oleh kontraktor juga sulit diterima, mengingat badai tidak terjadi setiap hari dalam 175 hari. Ia mengatakan dari penelurusan ICW terdapat 23 angin topan yang terjadi di China tahun itu. Namun, kejadian itu hanya berlangsung pada Juli hingga September 2012.

"Itu juga terjadi setelah tenggat waktu kontrak. Jadi mestinya tidak berpengaruh ke jadwal penyerahan kapal," katanya.

Baca 119 kali

TERPOPULER

KABAR TERBARU