Download Free Templates http://bigtheme.net/ Websites Templates
Rabu, 21 September 2016 03:56

Awkarin dan Anya Geraldine, Apa kata psikolog?

Ditulis oleh

Lingkarmedia.com - JAKARTA, Dua remaja putri Karin Novilda (Awkarin) dan Anya Geraldine tengah menjadi sorotan karena dinilai terlalu vulgar menampilkan berbagai konten di akun media sosial mereka. Prilaku mereka dinilai bisa menjadi contoh buruk bagi remaja. Apa kata psikolog?

Psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi menyebut, Awkarin dan Anya seperti kaum remaja pada umumnya yang butuh perhatian. Mereka ingin menunjukkan eksistensi.

"Ada kecenderungan, memang suka jadi center of attention juga ya mereka ini," kata psikolog anak dan remaja dari RaQQi-Human Development & Learning Centre ini seperti yang dilansir detikcom, Rabu (21/9/2016).

Dijelaskan Ratih, sebenarnya Awkarin dan Anya tak jauh berbeda dengan remaja zaman dulu. Seperti yang dikatakannya tadi, anak usia remaja selalu ingin menunjukkan eksistensi. Hanya saja, anak masa kini gampang menyalurkan hasratnya itu lewat berbagai jenis media sosial yang ada.

"Sebenarnya mungkin kalau dibandingkan dengan remaja zaman dulu enggak ada jauh beda kalau soal eksistensi, cuma mungkin remaja zaman dulu bukan digital native ya. Artinya mereka enggak serta merta langsung bisa menampilkan apa yang mau mereka tampilkan karena enggak ada medianya. Kalau remaja sekarang mereka punya medianya, mereka bisa langsung posting, sehingga mempermudah mereka untuk proses eksistensi," jelas Ratih.

"Tapi basicly mereka (Awkarin dan Anya) remaja banget yang butuh perhatian. Makin banyak di-like mereka makin suka. Jadi kalau saya sih melihatnya itu remaja. Cuma ada remaja yang self controlnya sudah oke, ada yang belum. Itu bisa berdasarkan dari apa yang mereka dapatkan di kehidupan sehari-hari. Misalnya kayak simulasi dari orang tua, kebiasaan pola asuh dan sebagainya," sambungnya memaparkan.

Ratih sendiri juga mengikuti soal isu ini. Lalu apakah Anda menilai Awkarin dan Anya termasuk sosok yang over dalam menunjukkan eksistensi jika di akun media sosialnya mereka ada menampilkan hal-hal yang vulgar dan kata-kata yang tak sopan?

"Lumayan sih ya. Maksudnya gini, over itu dilihat dari nilai dan norma yang berlaku. Kalau misalnya di Indonesia, sudah pasti itu agak cenderung sedikit berlebihan karena enggak sesuai budaya kita. Tapi kalau dibandingkan dengan remaja-remaja di barat sana, Awkarin sama Anya ini mungkin enggak ada apa-apanya. Tapi di sini kita kan mengacunya kepada norma kelompok," jawab Ratih.

Ditambahkan Ratih, di kasus Awkarin dan Anya, dirinya tak melihat kedua selebgram itu hanya sekadar mencari perhatian dan eksistensi di media sosial. Ada juga motif ekonomi yang tak bisa dikesampingkan, terutama untuk sosok Awkarin.

"Kalau Awkarin itu orangnya memang sangat ekspresif ya, jadi dia ekspresinya cukup bebas. Ada beberapa yang memang menjadi tuntutan karena dia kan endorsment. Dia cari duit di situ. Sudah ada faktor finansial juga, bukan serta merta hanya ingin eksistensi, tapi dia juga sudah ada finansial efectnya. Jadi mungkin saja dia juga melakukan itu karena mendapatkan imbalan. Di satu sisi dia bisa memenuhi kebutuhan remaja untuk eksistensi, di sisi lain dia juga bisa mendapat imbalan secara finansial," papar Ratih. Dua remaja putri Karin Novilda (Awkarin) dan Anya Geraldine tengah menjadi sorotan karena dinilai terlalu vulgar menampilkan berbagai konten di akun media sosial mereka. Prilaku mereka dinilai bisa menjadi contoh buruk bagi remaja. Apa kata psikolog?

Psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi menyebut, Awkarin dan Anya seperti kaum remaja pada umumnya yang butuh perhatian. Mereka ingin menunjukkan eksistensi.

"Ada kecenderungan, memang suka jadi center of attention juga ya mereka ini," kata psikolog anak dan remaja dari RaQQi-Human Development & Learning Centre , Rabu (21/9/2016).

Dijelaskan Ratih, sebenarnya Awkarin dan Anya tak jauh berbeda dengan remaja zaman dulu. Seperti yang dikatakannya tadi, anak usia remaja selalu ingin menunjukkan eksistensi. Hanya saja, anak masa kini gampang menyalurkan hasratnya itu lewat berbagai jenis media sosial yang ada.

"Sebenarnya mungkin kalau dibandingkan dengan remaja zaman dulu enggak ada jauh beda kalau soal eksistensi, cuma mungkin remaja zaman dulu bukan digital native ya. Artinya mereka enggak serta merta langsung bisa menampilkan apa yang mau mereka tampilkan karena enggak ada medianya. Kalau remaja sekarang mereka punya medianya, mereka bisa langsung posting, sehingga mempermudah mereka untuk proses eksistensi," jelas Ratih.

"Tapi basicly mereka (Awkarin dan Anya) remaja banget yang butuh perhatian. Makin banyak di-like mereka makin suka. Jadi kalau saya sih melihatnya itu remaja. Cuma ada remaja yang self controlnya sudah oke, ada yang belum. Itu bisa berdasarkan dari apa yang mereka dapatkan di kehidupan sehari-hari. Misalnya kayak simulasi dari orang tua, kebiasaan pola asuh dan sebagainya," sambungnya memaparkan.

Ratih sendiri juga mengikuti soal isu ini. Lalu apakah Anda menilai Awkarin dan Anya termasuk sosok yang over dalam menunjukkan eksistensi jika di akun media sosialnya mereka ada menampilkan hal-hal yang vulgar dan kata-kata yang tak sopan?

"Lumayan sih ya. Maksudnya gini, over itu dilihat dari nilai dan norma yang berlaku. Kalau misalnya di Indonesia, sudah pasti itu agak cenderung sedikit berlebihan karena enggak sesuai budaya kita. Tapi kalau dibandingkan dengan remaja-remaja di barat sana, Awkarin sama Anya ini mungkin enggak ada apa-apanya. Tapi di sini kita kan mengacunya kepada norma kelompok," jawab Ratih.

Ditambahkan Ratih, di kasus Awkarin dan Anya, dirinya tak melihat kedua selebgram itu hanya sekadar mencari perhatian dan eksistensi di media sosial. Ada juga motif ekonomi yang tak bisa dikesampingkan, terutama untuk sosok Awkarin.

"Kalau Awkarin itu orangnya memang sangat ekspresif ya, jadi dia ekspresinya cukup bebas. Ada beberapa yang memang menjadi tuntutan karena dia kan endorsment. Dia cari duit di situ. Sudah ada faktor finansial juga, bukan serta merta hanya ingin eksistensi, tapi dia juga sudah ada finansial efectnya. Jadi mungkin saja dia juga melakukan itu karena mendapatkan imbalan. Di satu sisi dia bisa memenuhi kebutuhan remaja untuk eksistensi, di sisi lain dia juga bisa mendapat imbalan secara finansial," papar Ratih.

Baca 122 kali

TERPOPULER

KABAR TERBARU