Download Free Templates http://bigtheme.net/ Websites Templates
Rabu, 08 Februari 2017 12:10

Christine Hakim dan JFlow Berkolaborasi dalam film Boven Digoel

Ditulis oleh

Lingkarmedia.com - Aktris peraih tujuh Piala Citra, Christine Hakim (60), untuk pertama kalinya dipasangkan dengan Joshua Matulessy (36) dalam film Boven Digoel. Pria yang lebih akrab dengan panggilan JFlow itu sebenarnya lebih dikenal sebagai merupakan rapper alih-alih aktor.

Dalam jumpa pers pemutaran film arahan FX Purnomo tersebut di Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, (6/2/2017), Tin --panggilan Christine-- mengatakan bahwa ada banyak nama yang masuk. Mulai dari yang indo alias blasteran bule, hingga yang sudah sangat terkenal.

"Tapi kok entah kenapa tiba-tiba saat saya lagi mencuci baju, jadi ingat JFlow," ujar Christine dilansir Kompas.com.

Nama JFlow kemudian ia usulkan kepada sang sutradara sebagai kandidat pemeran tokoh dokter John Manangsang. Sementara Christine dalam film ini melakonkan sosok ibu sang dokter.

Untuk lebih meyakinkan FX Purnomo yang baru kali ini menyutradarai film panjang, Tin juga mengirimkan foto beserta tautan dari cuplikan film Salawaku. Dalam film tersebut, JFlow bermain sebagai tokoh utama bernama Kawanua berpasangan dengan Karina Salim dan Raihaanun. Hasilnya gelar sebagai film panjang bioskop terbaik dalam Apresiasi Film Indonesia 2016 berhasil mereka bawa pulang.

JFlow di mata Christine tak hanya punya kemampuan akting mumpuni, tapi juga perawakan yang mirip dengan Dr. John. "Entah kenapa saya kayaknya mantap sama JFlow. Alhamdulillah, dia meluangkan waktu pas saya telepon," lanjutnya.

Dihubungi aktris sekaliber Christine Hakim jelas sebuah kebanggaan bagi JFlow. Karenanya ia sukar untuk menolak tawaran bermain dalam film Boven Digoel. Sekalipun itu membuatnya harus merevisi keputusannya yang tidak mau lagi bermain film karena ingin lebih fokus di dunia musik.

"Saya bermain film ini karena diminta aktris senior Christine Hakim yang sudah punya banyak pengalaman di dunia akting. Saya pikir saya akan punya pengalaman baru walaupun syutingnya jauh dari kota," ujar JFlow dalam laman pikiran-rakyat.com.

Film yang lengkapnya bertajuk Boven Digoel: Antara Hukum, Etika, dan Moral ini merupakan adaptasi dari buku kisah nyata berjudul "Catatan Seorang Dokter dari Belantara Boven Digul" karya John Manangsang terbitan Yayasan Obor Indonesia.

Diterbitkan pada 1994, buku itu menceritakan pengalaman Dr. John melakukan sebuah "pawai pengabdian" selama 90 hari yang ia namakan program Puskesmas keliling jalan kaki ke semua desa di Kecamatan Mandobo, Boven Digoel, Papua.

Akibat keterbatasan sarana dan prasarana, Dr. John pernah melakukan operasi cesar menggunakan silet sebagai ganti ketiadaan pisau bedah untuk membedah perut pasien. Lain waktu, pahat dan martil juga hadir sebagai "alat kehormatan" di kamar bedah Dr. John untuk melakukan arthrodesis terhadap pasien yang terkena kekakuan sendi.

Menurut alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, tidak melakukan tindakan apa-apa memang tidak berisiko bagi seorang dokter, tetapi hal itu merupakan suatu kesalahan. Berbuat sesuatu yang invasif agresif juga adalah salah. Namun demikian ada kemungkinan pasien bisa diselamatkan.

Dalam versi film, John dikisahkan seorang yang punya cita-cita menjadi pilot. Namun, karena pengalaman menyaksikan banyak orang meninggal, dia akhirnya merantau ke Jakarta untuk kuliah kedokteran meski tidak punya cukup uang.

Setelah lulus, John langsung ke Papua untuk tugas pertamanya pada salah satu puskesmas di Tanah Merah, Boven Digoel, yang jauh dari perkotaan. Setibanya di sana, Dr. John mendapati fakta bahwa warga sangat membutuhkan dokter. Sebagai satu-satunya dokter yang bertugas di sana, John harus rela meninggalkan keluarga demi pengabdian.

Boven Digoel yang tayang mulai 9 Februari 2017 bukan film pertama yang menjadikan Papua sebagai tempat kejadian cerita. Sebelumnya sudah ada Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002), Melody Kota Rusa (2010), dan Lost In Papua (2011).

Henry W. Muabuay, pimpinan produksi film Boven Digoel, mengaku pihak Cinema 21 hanya memberikan jatah 15 layar untuk mereka pada penayangan hari pertama. Fakta tersebut sempat membuat Christine sedih.

Namun, perempuan kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, itu mencoba realistis. Sulit bagi rumah produksi kecil dan pemula untuk dapat kepercayaan tinggi dari ekshibitor alias pemilik bioskop. Terlebih lagi, film ini bukan mengusung genre komedi yang sekarang digandrungi masyarakat.

"Film ini bagus tapi juga segmented. Melihat pasar yang ada, hanya dapat 15 layar bukan masalah, tapi bagaimana menumbuhkan masyarakat Papua nonton film produksi Papua," pungkas Christine.

 

Baca 103 kali

TERPOPULER

KABAR TERBARU